Tuesday, 11 Muharram 1444 / 09 August 2022

Kecerdasan Buatan Baru Dapat Deteksi Usia Biologis

Jumat 02 Feb 2018 18:14 WIB

Rep: Noer Qomariah Kusunawardhani/ Red: Winda Destiana Putri

Kecerdasan buatan/ilustrasi

Kecerdasan buatan/ilustrasi

Foto: wordpress.com
Kecerdasan buatan bisa membuat orang hidup lebih lama.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kecerdasan buatan baru dapat memberi tahu usia sel individu. Menurut sebuah penelitian baru, kecerdasan buatan bisa membuat orang hidup lebih lama dengan mendeteksi usia internal manusia dan merancang rezim media yang dibuat khusus.

Para ilmuwan mengembangkan alogaritma komputer yang dapat menghitung usia biologis seseorang dan mengungkapkan apakah perubahan gaya hidup dan produk medis tertentu dapat meningkatkan kesempatan hidup panjang dan sehat. Rumusnya disebut Aging. Al telah memberikan hasil yang akurat berdasarkan sampel dara 130 ribu individu.

Penelitian baru yang dipimpin oleh perusahaan Al Insilico Medicine mengatakan bahwa kecerdasan buatan dapat menentukan risiko seseorang terkena penyakit terkait usia seperti kanker dan penyakit jantung.

Baca juga: Kecerdasan Buatan Ini Bisa Mencegah Perburuan Liar

"Kecerdasan buatan sama baiknya dalam memprediksi usia Anda seolah-olah melihat foto orang itu dan menebak usianya," kata Profesor diUniversity of Copenhagens Center for Healthy Aging, Dr. MortenScheibye-Knudsen, seperti yang dikutip dari Daily Mail.

Perlu dicatat usia biologis seseorang mungkin berbeda dari usia sebenarnya. Penelitian yang dipublikasikan di Journal of Geronbtology:Bilogical Sciences menguji formula Aging. Al pada serangkaian sampel darah dan menemukan bahwa alogaritma tersebut dapat menentukan usia biologis berdasarkan sampel darah.

Setiap sampel darah diukur untuk parameter seperti tingkat kolesterol dan pembengkakan. Penelitian juga menunjukkan jika alogaritma menemukan orang secara biologis lebih muda dari usia sebenarnya, mereka cenderung bertahan lebih lama.

Saat ini kita sebenarnya tidak tahu berapa umurnya. Tentu saja kami memiliki hipotesis dan asumsi. "Tapi kita juga tahu usia merupakan faktor risiko terbesar bila menyangkut penyakit yang meluas seperti kanker, demensia, dan penyakit kardiovaskular," ujarnya.

Pun periset mengatakan, formula tersebut dapat digunakan untuk menilai efek obat dan prosedur lain mengenai kesehatan fisik umum. Hal ini dilakukan dengan mengukur usia biologis sebelum dan sesudah perawatan medis.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA