Tuesday, 16 Rajab 1444 / 07 February 2023

Salah Penempatan, Dua Satelit Ini Telah Dipulihkan

Jumat 02 Feb 2018 13:55 WIB

Rep: Silvy Dian Setiawan/ Red: Winda Destiana Putri

Satelit

Satelit

Foto: blogspot
Dua satelit tersebut dapat dipulihkan dan ditempatkan pada orbit yang diinginkan.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Dua satelit yang diluncurkan dengan menggunakan roket Ariane 5, ditempatkan di orbit yang salah akibat mengalami anomali selama peluncuran pada 25 Januari. Namun, operator mengatakan, dua satelit tersebut dapat dipulihkan dan ditempatkan pada orbit yang diinginkan.

Dilansir di Space, Kamis (1/1), dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh perusahaan Arianespace, yang merupakan anak perusahaan Evry di Prancis, pada (26/1) lalu, akibat anomali karena adanya kesalahan "deviasi lintasan" komunikasi dengan roket yang membawa dua satelit tersebut. Dimana, roket tersebut berhenti mengirim telemetri pada 9 menit dan 26 detik setelah lepas landas, beberapa detik setelah mesin tahap kedua roket tersebut dinyalakan.

Ariane 5 diluncurkan dari Pusat Antariksa Eropa di Guyana Perancis, Amerika Selatan pada pukul 5.20 malam waktu setempat. Roket tersebut membawa satelit SES-14 yang beratnya 4.400 kilogram dan satelit Al Yah 3 dengan berat 3.800 kilogram. Tim di lapangan pertama kali menemukan masalah saat sebuah stasiun pelacak di Natal, Brasil, tidak menerima telemetri dari roket tersebut.

Data dari di situs Strategic Command's Space Track AS, menunjukkan bahwa muatan dari peluncuran berada dalam orbit sekitar 235 x 43.150 kilometer, serupa dengan orbit yang direncanakan 250 x 45.000 kilometer. Namun, satelit memiliki inklinasi orbital sekitar 21 derajat, jauh lebih tinggi dari inklinasi yang direncanakan pada 3 derajat.

Baik SES maupun Yahsat (perusahaan pembuat satelit Al Yah 3) telah mengkonfirmasi kelayakan wahana antariksanya masing-masing. SES yang berbasis di Luksemburg mengatakan bahwa SES-14 akan menambah waktu selama empat minggu untuk mencapai posisi orbitnya di benua Amerika. Sementara, Yahsat, yang berbasis di Uni Emirat Arab, mengatakan propulsi dari komposisi listrik hibrida satelit Al Yah 3 akan menggunakan "rencana penerbangan revisi" untuk mencapai orbit dan mulai beroperasi akhir tahun ini.

Arianespace mengatakan telah membentuk sebuah komisi independen dalam hubungannya dengan European Space Agency, untuk menyelidiki anomali tersebut. Kampanye peluncuran yang akan diluncurkan, sedang berlangsung di Guiana Space Center dan berjalan sesuai jadwal.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA