Tuesday, 6 Syawwal 1442 / 18 May 2021

Tuesday, 6 Syawwal 1442 / 18 May 2021

BMKG Imbau Waspadai Rob Saat Super Blue Blood Moon

Selasa 30 Jan 2018 20:17 WIB

Rep: Lilis Sri Handayani/ Red: Hazliansyah

Ilustrasi Gerhana bulan total

Ilustrasi Gerhana bulan total

Foto: Antara/Adiwinata Solihin
Sebab, fenomena langka itu bisa menaikkan pasang air laut.

REPUBLIKA.CO.ID,  MAJALENGKA -- Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, mengimbau warga Ciayumajakuning, terutama di pesisir Cirebon dan Indramayu, untuk mewaspadai fenomena Super Blue Blood Moon. Sebab, fenomena langka itu bisa menaikkan pasang air laut.
 
Fenomena Super Blood Blue Moon akan terjadi pada 31 Januari 2018. Fenomena itu merupakan supermoon yang terjadi kedua kalinya dalam satu bulan setelah sebelumnya juga terjadi pada 2 Januari 2018.
 
Saat supermoon, bulan akan lebih besar 14 persen dan lebih terang sekitar 30 persen dari ukuran ketika bulan purnama biasa. Fenomena supermoon pada 31 Januari pun lebih istimewa karena bersamaan waktunya dengan gerhana bulan total.
 
"Saat Super Blue Blood Moon, diprakirakan ketinggian pasang air laut maksimum mencapai kurang lebih satu meter," kata Forecaster BMKG Stasiun Jatiwangi, Ahmad Faa Izyn, kepada Republika.co.id, Selasa (30/1).
 
Faiz menambahkan, peningkatan pasang air laut atau yang dikenal warga dengan istilah rob itu harus diwaspadai mulai 30 Januari 2018 hingga 1 Februari 2018. Dia meminta nelayan dan warga di pesisir untuk mewaspadai hal tersebut.
 
Sementara itu, Kepala Desa Eretan Wetan, Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu, Edi Suhaedi, mengatakan, daerahnya selama ini memang menjadi langganan rob setiap kali bulan purnama. Dia pun mengaku sudah menerima informasi mengenai adanya fenomena Super Blue Blood Moon yang akan terjadi pada 31 Januari 2018.
 
"Untuk rob hari ini masih aman dan terkendali," kata Edi, dalam pesan singkatnya kepada Republika.co.id.
 
Terpisah, Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Indramayu, AR Hakim, mengungkapkan, nelayan di Kabupaten Indramayu selama ini sudah mampu membaca gejala alam, termasuk soal ketinggian gelombang saat bulan purnama. Karenanya, saat bulan purnama tiba, mereka tidak akan berangkat melaut.
 
"Selain ombaknya tinggi, ikan juga susah ditangkap," terang Hakim. 
 
Hakim mengungkapkan, selama ini pihaknya telah memasang pengumuman soal ketinggian gelombang dan kecepatan angin di depan kantor yang dipimpinnya. Sedangkan, terkait imbauan kewaspadaan rob di permukiman nelayan, dia menyatakan, hal itu merupakan kewenangan instansi lainnya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA