Sunday, 3 Jumadil Awwal 1444 / 27 November 2022

Erdogan: Turki akan Bersihkan Perbatasan Suriah dari Kurdi

Senin 29 Jan 2018 14:15 WIB

Rep: Crystal Liestia Purnama/ Red: Ani Nursalikah

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menetapkan status darurat selama tiga bulan, Rabu (20/7), menyusul kudeta gagal pekan lalu.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menetapkan status darurat selama tiga bulan, Rabu (20/7), menyusul kudeta gagal pekan lalu.

Foto: Kayhan Ozer/Pool Photo via AP
Ketegangan meningkat antara AS dan Turki.

REPUBLIKA.CO.ID, ISTANBUL -- Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan pada Ahad (28/1) waktu setempat Turki akan membersihkan seluruh perbatasan Suriah. Ini merupakan sebuah tanda serangan Turki terhadap kelompok YPG Kurdi Suriah di wilayah Afrin utara dapat diperpanjang lebih lanjut.

Sejak serangan dari pasukan Turki di Afrin dimulai sembilan hari lalu, ketegangan meningkat antara Turki dan Amerika Serikat (AS) yang telah mendukung YPG di bagian lain Suriah dalam perang melawan ISIS. "Langkah demi langkah kami akan membersihkan seluruh perbatasan kita," kata Erdogan dalam pidatonya, setelah tentara mengatakan telah merebut Jabel Bursaya, sebuah bukit yang menurut media Turki berada dalam posisi kritis beberapa hari ini.

Serangan itu telah menghabiskan waktu lebih dari sepekan bagaimana pun, Turki dan sekutu kelompok pemberontak Suriah hanya melakukan kemajuan sederhana yang berjuang melawan musuh yang mengakar di medan perbukitan. Pasukan Demokratik Suriah yang didukung AS merupakan aliansi milisi di mana YPG adalah yang terkuat, mengatakan pada Ahad sebelumnya ada pertempuran sengit di wilayah tersebut.

Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia mengatakan Turki dan kelompok pemberontaknya telah mengambil alih bukit yang menghadap kota utama Azaz di Suriah, yang juga mereka pegang. Observatorium mengatakan serangan udara Turki telah menewaskan tiga orang dalam satu keluarga pada Ahad dini hari waktu setempat di Afrin. Dilaporkan pula pengeboman Turki juga merusak sebuah kuil kuno.

 

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA