Sunday, 10 Zulqaidah 1442 / 20 June 2021

Sunday, 10 Zulqaidah 1442 / 20 June 2021

Ibnu Abbas Kagumi Sosok Zaid bin Tsabit

Selasa 16 Jan 2018 15:30 WIB

Rep: Ratna Ajeng Tedjomukti/ Red: Agung Sasongko

Ilustrasi kafilah dagang di gurun pasir

Ilustrasi kafilah dagang di gurun pasir

Foto: saharamet.org

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sahabat satu ini juga mengabdikan dirinya untuk memperoleh pengetahuan di berbagai bidang. Dia memiliki kekaguman khusus untuk orang-orang seperti Zaid bin Tsabit, pere kam wahyu, hakim, dan ahli hukum.Ketika Zaid bermaksud untuk melak ukan perjalanan, Abdullah berdiri dengan rendah hati di sisinya dan akan bersikap sebagai pelayan yang rendah hati. Zaid kemudian memintanya untuk berdiri sejajar agar tidak ada pembeda antara dirinya dengan sepupu Rasulullah itu.

Ibnu Abbas berkata bahwa orang terpelajar harus dimuliakan. Kemudian Zaid meminta melihat tangan Ibnu Abbas, kemudian menciumnya. Kami diperintahkan untuk memperlakukan dengan baik keluarga Nabi, kata Zaid.

Semakin tumbuh dewasa, Ibnu Abbas semakin tampan. Tubuhnya terlihat tinggi dengan wajah yang bersih.Masruq bin al Ajda berkata kepadanya:"Setiap kali melihat Ibnu Abbas, saya mengatakan, Dia adalah orang yang paling tampan. Ketika dia berbicara, saya akan mengatakan, dia adalah orang yang paling fasih. Ketika dia bercakapcakap, saya mengatakan, dia adalah orang yang paling berpengetahuan luas.

Saad bin abi Waqqas mengatakan, belum pernah melihat seseorang yang lebih cepat memahami berbagai hal, yang memiliki lebih banyak pengetahuan dan kebijaksanaan yang lebih besar daripada Ibnu Abbas. Suatu ketika dia melihat Umar memanggil sepupu Rasulullah itu untuk membahas masalah pelik di hadapan para pejuang perang Badar dari Muhajirin dan Ansar.Ibnu Abbas berbicara dan Umar akan memperhatikan ucapan perawi hadits Rasulullah itu dengan cermat.

Tak sebatas mengumpulkan berbagai pengetahuan, Ibnu Abbas merasa berkewajiban mendidik umat agar memahami berbagai persoalan secara menyeluruh. Dia meluangkan waktu untuk membuka pengajaran. Rumahnya dimanfaatkan untuk menjadi tempat belajar. Banyak orang berdatangan untuk belajar kepadanya.

Di akhir hayat, Ibnu Abbas lebih banyak menghabiskan waktu untuk berpuasa dan beribadah. Dia menangis sambil berdoa dan membaca Alquran setiap malam. Ketika membaca ayatayat kematian, kebangkitan, dan kehidupan akhirat, suaranya akan berat karena air mata menetes. Dia meninggal pada usia 71 tahun di kota Taif.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA