Wednesday, 13 Zulqaidah 1442 / 23 June 2021

Wednesday, 13 Zulqaidah 1442 / 23 June 2021

Warga Palestina Terus Lancarkan Aksi Protes Terhadap Trump

Ahad 24 Dec 2017 03:57 WIB

Rep: Fuji Pratiwi/ Red: Esthi Maharani

Warga Palestina menggelar demonstrasi anti-AS sambil membawa rekan mereka yang terluka terkena tembakan militer Israel, Jumat (22/12).

Warga Palestina menggelar demonstrasi anti-AS sambil membawa rekan mereka yang terluka terkena tembakan militer Israel, Jumat (22/12).

Foto: EPA-EFE/MOHAMMED SABER

REPUBLIKA.CO.ID, RAMALLAH -- Faksi-faksi politik Palestina menyerukan warga Palestina untuk ikut dalam protes penolakan klaim Presiden AS Donald Trump atas Yerusalem sebagai ibukota Israel. Aksi protes ini digelar pada Jumat (22/12) yang merupakan hari ke tiga rangkaian aksi menentang pernyataan Presiden Trump atas pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel pada awal Desember 2017 lalu serta rencana Washington memindahkan Kedutaan Besar AS dari Tel Aviv ke Yerusalem.

Sejak pengumuman itu, hampir tiap hari warga Palestina menggelar protes termasuk protes atas okupasi Israel di Tepi Barat, Yerusalem Timur, dan Gaza. Sejauh ini, sudah ada enam warga Palestina yang tewas dan ratusan lainnya luka-luka oleh pasukan Israel selama rangkaian aksi protes berlangsung, demikian dilansir Maan News, Sabtu (23/12).

Pada Jumat (22/12) pagi, Israel menambah jumlah pasukan di pintu masuk dan perbatasan kota-kota yang bertetangga dengan Tepi Barat dimana rangkaian aksi protes berlangsung. Sementara itu, Sidang Umum PBB pekan ini menolak pernyataan Presiden Trump soal Yerusalem. Namun, itu tidak menghentikan seruan aksi protes di Palestina. Selain di Palestina, aksi juga digelar di Yordania.

(Baca: Palestina Sambut Penolakan Klaim Yerusalem Ibu Kota Israel)

Para pemimpin Palestina dan Arab memperingatkan Trump. Mereka menyebut pernyataan Trump menyebabkan ketidakstabilan di kawasan tersebut. Meski berulang kami berjanji memindahkan Kedutaan Besar AS k3 Yerusalem dalam kampanye Presiden AS pada Juni 2016 lalu, Trump telah menandatangani perintah sementara menahan keberadaan Kedutaan Besar AS tetap berada di Tel Aviv.

Langkah ini menjadi langkah drastis pertama AS setelah kebijakan AS yang telah lama ada yang mengakomodasi bahwa Yerusalem Timur adalah bagian wilayah Palestina meski Israel perlahan ingin merebut kawasan itu. Nasib Yerusalem merupakan titik utama konflik Palestina-Israel selama beberapa dekade. Ketegangan kedua pihak meningkat setelah Israel mengklaim Yerusalem Timur sebagai pusat Judaisme dengan mengusir warga Palestina dari sana.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA