Thursday, 20 Rajab 1442 / 04 March 2021

Thursday, 20 Rajab 1442 / 04 March 2021

Pengamat: Setnov Jadi Daya Rusak Luar Biasa untuk Golkar

Kamis 21 Dec 2017 01:15 WIB

Rep: Mabruroh/ Red: Bilal Ramadhan

Terdakwa kasus korupsi KTP Elektronik Setya Novanto  membaca nota keberatan di  persidangan pengadilan  tindak pindana korupsi, Jakarta, Rabu (20/12).

Terdakwa kasus korupsi KTP Elektronik Setya Novanto membaca nota keberatan di persidangan pengadilan tindak pindana korupsi, Jakarta, Rabu (20/12).

Foto: Republika/Iman Firmansyah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat Politik sekaligus Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno mengatakan kasus korupsi yang menjerat Ketua Umum Partai Golkar sebelumnya, Setya Novanto menjadi daya rusak yang besar bagi Golkar. Menurutnya akan sulit bagi Golkar untuk mengembalikan elektabilitasnya dengan waktu yang mendesak.

"Kalau kita berkaca pada pemimpin-pemimpin partai lain yang menjadi tersangka kasus korupsi, itu daya rusaknya luar biasa ya, seperti PKS dan Demokrat," ujar Adi saat dihubungi, Rabu (20/12).

Adi menerangkan, sejak Lutfi Hasan Ishaq dan Anas Urbaningrum terjerat kasus korupsi, baik PKS maupun Demokrat seolah terjun bebas. Apa yang terjadi pada kedua partai tersebut menurut Adi, juga akan memiliki dampak yang sama dengan Golkar.

"Saya menduganya agaknya akan seperti Demokrat dan PKS ketika ketua umum mereka jadi tersangka, Golkar juga akan mengalami efek domino yang sama seperti PKS dan Demokrat," kata Adi.

Tapi Adi menilai, langkah Airlangga yang berencana merombak semua struktur memang patut diacungi jempol.Menurutnya langkah tersebut dinilai cukup berani dilakukan Airlangga untuk melakukan perubahan pada partainya.

"Saya kira tepat niat baik (Airlangga) merubah image Golkar yang bersih dan baru (dengan) merubah struktur kabinet," ungkapnya.

Hanya saja sambung Adi, mengingat 2018 merupakan tahun politik tentu akan membuat Golkar terpecah. Pasalnya Pilkada nanti akan membuat semua kader Golkar sibuk memenangkan kandidat di masing-masing daerah sehingga kemudian pengurus Golkar akan terbelah.

"Karena mereka akan mengkonsolidasikan internal mereka tapi pada saat yang bersamaan juga mereka berpikir bagaimana untuk menangkan Pilkada," terangnya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA