Friday, 8 Zulqaidah 1442 / 18 June 2021

Friday, 8 Zulqaidah 1442 / 18 June 2021

Raja Salman Bertekad Lawan Korupsi di Arab Saudi

Kamis 14 Dec 2017 15:01 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Teguh Firmansyah

Raja Salman

Raja Salman

Foto: Reuters

REPUBLIKA.CO.ID, RIYADH Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al-Saud mengatakan, pemerintahnya saat ini telah bertekad untuk menghadapi korupsi dengan tegas dan adil. Ia menilai pemberantasan korupsi akan berdampak pada peningkatan pembangunan di negaranya.

"Kami telah memutuskan, dengan bantuan Allah SWT, untuk menghadapinya (korupsi) dengan keadilan dan ketegasan sehingga negara kita dapat menikmati kebangkitan dan pembangunan yang diinginkan setiap warganegara," kata Raja Salman ketika berpidato di dewan konsultatif Shura, Rabu(13/12).

Raja Salman mengaku mendukung operasi penangkapan terhadap para pejabat atau keluarga kerajaan yang terlibat korupsi. Ia bahkan mengatakan telah memerintahkan pembentukan sebuah komite yang lebih tinggi untuk melawanserta memberantas praktik korupsi di negaranya.

Menurutnya pemberantasan korupsi penting dilakukan untuk mendorong reformasi ekonomi Saudi bertajuk Vision 2030. Dalam reformasi ekonomi ini, Saudi diharuskan untuk menemukan sumber pendapatan baru dan taklagi bergantung pada komoditas minyak. "Namun korupsi merupakan salah satu ancaman utama bagi pembangunan ekonomi," ujar Raja Salman.

Raja Salman mengungkapkan restrukturisasi yang saat ini sedang dilakukan negaranya tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam. "Tidak ada tempat di antara kitau ntuk seorang ekstremis yang melihat moderasi sebagai penyimpangan atau siapa yang akan memanfaatkan iman baikhati kita untuk mencapai tujuannya," ujarnya.

Awal November lalu, otoritas Saudi melakukan penangkapan besar-besaran terhadap sejumlah pejabat, pangeran, dan mantan menteri yangdiyakini terlibat korupsi. Operasi penangkapan ini dipimpin oleh Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman.

Tidak hanya menangkap dan menahan, Saudi juga memburukekayaan para pejabatnya yang diperkirakan diparkir di luar negeri. Hal ini dilakukan untuk membekukan seluruh aset dan hartanya agar tak bisa diakses kembali oleh yang bersangkutan.

Operasi penangkapan besar-besaran ini sempat menuai kritik. Hal ini karena Mohammed bin Salman dianggap menyisipkan agenda terselubung dibalik penangkapan para pejabat korup tersebut, yakni meringkus orang-orang yangdinilai berseberangan dengan cara berpikirnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA