Monday, 24 Rajab 1442 / 08 March 2021

Monday, 24 Rajab 1442 / 08 March 2021

Teringat Jagal Ratko Mladik di Srebrenica

Jumat 24 Nov 2017 10:51 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Pengungsi serbenica

Kuburan para korban pembantaian Serbia di Sarajevo. Dahulu komplek kuburan ini adalah taman mawar; Di tengah terlihat bangunan kubah yang merupakan kuburan tokoh dan Presiden Bosnia, Aliza Izetbegovic.

Foto:

Bagi warga Bosnia Herzegovina, peristiwa pembantaian yang terjadi di awal tahun 1990-an itu menimbulkan trauma berkepanjangan. Fatma, seorang ibu paruh baya yang bekerja di sebuah hotel di Sarajevo menceritakan kengerian peristiwa itu. Untunglah tak ada sanak dan kerabat dekatnya menjadi korban. Ini karena mereka memilih tinggal di kamp pengungsian di Sarajevo yang dijaga ketat oleh pasukan PBB.

‘’Orang-orang itu (tentara Serbia) itu mirip tentara Nazi. Mereka menangkapi dan menembaki mati banyak orang di sini,’’ kata Fatma dengan nada haru. Dia kemudian menceritkan situasi Bosnia yang dikepung rapat balatentara Serbia dalam waktu yang cukup lama. Alteri dan senjata berat seperti tank Serbia menjaga berbagai titik strategis di muka perbukitan yang mengelilingi ibu kota Sarajevo yang sontak berubah dari kota yang porak poranda. (Keterangan gambar di bawah: Pasukan PBB menjaga para pengungsi Bosnia pada tahun 1992)

‘’Kami terkurung di sini. Tak berani ke mana-mana. Mereka benar-benar Nazi. Mereka biadab,’’ kata Fatma mengulangi kegeraman dan kutukannya kepada tentara Serbia.

Luka batin atas tragedi itu juga masih berlangsung sampai sekarang.. Di sebuah bazaar di Sarajevo yang menjadi pusat kunjungan turis, kerapkai muncul perang mulut antara beberepa laki-laki. Adanya keributan ini tentu mengagetkan para pengunjung yang saat itu tengah berbelanja sembari menikmati kudapan makanan dan keindahan bangunan tua yang ada di kota yang sempat menjadi kota penyelenggara Olimpiade Musim dingn 1982 itu.

‘’Tenang-tenang. Itu hanya ‘derby’ saja,’’ kata seorang penjaga cafe. Dan ketika ditanya apa yang dimaksud ‘derby’ dia mengatakan itu hanya ‘perang saudara’ sekota.’’Yang adu mulut itu orang keturunan Serbia melawan orang asli Bosnia. Mereka hanya perang mulut saja,’’ katanya. Meski berkata untung tenang saja, tapi adu mulut itu benar-benar serius, kedua saling adu keras teriakan.

Hal yang sama juga diakui oleh oeremouan  penjaga toko suvenir yang ada di kota Srebrenica. Menurutnya, setiap kali melintasi kompleks pemakaman para korban pembantain serbia, pengendara asal Serbia kerapkali menyalakan klakson secara keras. Tindakan kurangajar ini kerapkali mereka lakukan ketika melintasi jalanan di dekat kompleks makam di waktu malam.

‘’Ya mereka selalu begitu. Mereka benar-benar seperti Nazi,’’ kata sang penjaga toko suvenir itu.

Menyadari hal ini maka menajdi tidak mengejutkan bila Jendral Ratko Mladik masih berani sesumbar di depan sidang Pengadilan Kejahatan Internasional yang digelar di Den Haag. Meski kemudian dihukum penjara seumur hidup, Mladik berani sesumbar: you’ll see that he won! (Kamu akan lihat siapa nanti yang akan menjadi pemenang).

Maka disitulah saya teringat kembali Srebrenica. Sebab, di sanalah hasil jagal Mladik telah menigggalkan jejak horornya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

 

BERITA LAINNYA