Tuesday, 5 Jumadil Awwal 1444 / 29 November 2022

Dedi Mulyadi: Beri Kesempatan Golkar Dipimpin Tokoh Muda

Kamis 23 Nov 2017 13:16 WIB

Rep: Ita Nina Winarsih/ Red: Andi Nur Aminah

Ketua DPD I Golkar Jawa Barat Dedi Mulyadi

Ketua DPD I Golkar Jawa Barat Dedi Mulyadi

Foto: Republika/Prayogi

REPUBLIKA.CO.ID, PURWAKARTA -- Ketua DPD Partai Golkar Jabar, Dedi Mulyadi, mendorong supaya tokoh muda diberi kesempatan untuk memimpin partai berlambang pohon beringin tersebut.

Pasalnya, saat ini zaman millenial. Sehingga, pimpinan partai juga harus kekinian dan memiliki watak yang sesuai zamannya. Supaya, partai ini tidak tergerus oleh perkembangan zaman. "Saat ini, Golkar sedang gonjang-ganjing pascapenahanan ketua umumnya. Jadi, Golkar harus segera cari pemimpin pengganti," ujar Dedi, kepada Republika.co.id, Kamis (23/11).

Karena itu, pihaknya menyarankan supaya lintas generasi di Golkar segera bermusyawarah untuk mencari pemimpin baru. Yakni, antara DPP dan DPD untuk merumuskan penyelamatan partai. Bahkan, jika jalan musyawarah tak menemui titik temu, maka segera gelar Munaslub.

Idealnya, dia mengatakan, Munaslub bisa diselenggarakan akhir bulan ini. Supaya, di Desember nanti sudah ada pembaharuan. Dengan kata lain, Golkar punya pemimpin baru.

Pemimpin tersebut, diharapkan dari tokoh muda yang punya watak millenial. "Kalau Golkar tidak segera menggelar Munaslub, partai bisa kiamat (hancur). Ini harus segera diselamatkan," ujarnya.

Saat ini saja, lanjut Dedi, elektabilitas Golkar terus merosot. Menyusul dengan kasus yang mendera Ketua Umum Setya Novanto. Sedangkan dalam waktu dekat, seluruh partai akan disibukan dengan adanya agenda Pilkada serentak 2018.

Bila Golkar tak bisa bebenah, dia mengatakan, maka suara partai ini akan terjun bebas. Terlebih lagi menghadapi Pilpres 2019. Karena itu, seluruh kader di manapun, menurut dia, harus berjuang untuk menyelamatkan partai. Supaya, kepercayaan publik terhadap Golkar terdongkrak lagi.

Apalagi, bila melihat sejarah, basis suara Golkar itu segmentasinya di atas usia 40 tahun. Saat ini, segmen tersebut dipandang tidak cukup untuk memenangkan kontestasi. Makanya, perlu pembaharuan. Supaya, segmentasi massa di bawah 40 tahun, bisa dirangkul juga. "Salah satu caranya, dengan hadirnya pemimpin dari tokoh muda yang berjiwa visioner," ujarnya.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 

BERITA TERKAIT

 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA