Saturday, 26 Ramadhan 1442 / 08 May 2021

Saturday, 26 Ramadhan 1442 / 08 May 2021

Menyoal Toleransi: Antara Nilai dan Kebebasan

Jumat 17 Nov 2017 13:22 WIB

Red: Elba Damhuri

Kerukunan Beragama (Ilustrasi)

Foto:

Dari mana rusaknya nilai toleransi?
Kekuasaan menempati posisi paling tinggi merusak toleransi. Dalam sejarah panjang peradaban dunia, penguasa dalam nama apa pun mudah ditemukan melakukan kekerasan fundamental pada rakyatnya ketika berbeda bahkan pada hal yang tidak prinsipil.

Pertama, ketika Galileo berbeda pendapat dengan otoritas gereja soal bumi yang mengelilingi matahari, hukuman gantung pun diterimanya. Kedua, Nero memerintah Romawi antara 54 dan 68 M. Bertanggung jawab atas kematian ribuan orang, termasuk keluarganya sendiri dibunuh tanpa pengadilan ketika berbeda pendapat.

Ia membakar kota-kota hingga rata dengan tanah dan membunuh penduduknya. Juga memperkosa banyak wanita dan membunuhnya. Jika ada kelompok kuil piramid yang tak sejalan dengan ritualnya akan berujung di tiang gantungan.

Ketiga, Genghis memegang gelar sebagai Raja (Khan) dari 1206 hingga 1227. Seorang yang haus darah dan pendendam. Selama berkuasa, menguasai hampir seluruh daratan China hingga ke Laut Kaspia. Tak ada kompromi pada siapa pun yang tak mematuhinya, termasuk yang menantang larangannya menggunakan kuil untuk beribadah.

Ia dan pasukannya membantai orang-orang di kota yang didudukinya, membunuh prajurit lawan, penduduk biasa, wanita, dan anak-anak. Selama kekuasaannya, ia telah membunuh hingga 60 juta orang.

Banyak hal bahkan aneh bisa menjadi pemicu intoleransi. Misal, soal ras atau sekampung. Survei World Value menunjukkan di Hongkong 71,8 persen warganya menolak bertetangga jika tidak mirip dengannya, notabene yang paling mirip fisik maupun pola hidup yang sebangsa atau serumpun.

Maka itu, peta domisili para tenaga kerja asal luar negara industri judi itu pun terkotak-kotak. Hal sama terjadi di Korea Selatan, Iran, Vietnam, Mesir, Cina, dan Kirgistan. Di Amerika sendiri yang selalu jadi kiblat humanisme dan demokrasi masih ditemukan diskriminasi ras, khususnya pada penduduk kulit hitam. Kriminal terbesar di bulan Oktober 2017 ketika 58 orang tewas ditembak.

Paling kasat mata intoleransi adalah Myanmar (Burma), ketika meluluh lantah permukiman, memerkosa, dan mengusir penduduk Rohingya untuk dua hal, pertama mereka Muslim, kedua, tak dianggap penduduk asli Bangsa Burma.

Menista agama intoleran?
Kasus Ahok menjadi studi paling dekat yang menarik didiskusikan, meski hukum positif telah menetapkan vonis dua tahun kepada mantan anggota DPR RI dari partai Golkar tersebut. Dalam perspektif Islam yang diaminkan hakim, Ahok nyata menista agama, dengan menafsirkan ayat 51 dari Alquran Surah al-Maidah.

Bisa jadi tafsiran ayat sangat multi, tapi keberanian Ahok sebagai seorang protestan menafsirkan kitab suci Muslim di depan umum yang mayoritas Muslim dalam kaca mata psikologi massa dan etika bermasyarakat, jelas salah. Dan di situlah penistaan sesungguhnya.

Alquran mengajarkan toleran dengan sangat detail. Salah satunya, dalam surah Al Baqarah 256 berbunyi: “Tak ada paksaan bagimu masuk agama ini”. Ayat ini menginformasikan dengan terbuka dan jelas tak ada paksaan bagi siapa pun untuk masuk Islam, jika ada di luar Islam. Bagaimana jika sudah Muslim, maka ayat ini tentu saja tak cocok.
Panduan bagi Muslim, salah satunya adalah “Bertakwalah kamu dengan sebenar-benarnya takwa dan janganlah sekali-kali mati kecuali dalam keadaan Muslim” dalm surah Ali Imran 102. Diperintahkan untuk kuat dan istiqamah dalam beragama.

Deskripsi menyimpulkan sesungguhnya menjadi salah ketika atas nama toleransi masuk ke wilayah ibadah, misal mengucapkan selamat hari perayaan yang menjadi bagian dari proses ibadah agama tersebut, di situlah letak intoleransi.

Jadi, bagaimana seharusnya jika berbeda agama? Sangat jelas ketika Allah berkata di surah al-Kafirun 6: “Bagiku agamaku bagimu agamamu”. Tak perlu dicampur-campur, maka semua damai. Selamat Hari Toleransi Sedunia.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 

BERITA TERKAIT

 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA