Saturday, 28 Sya'ban 1442 / 10 April 2021

Saturday, 28 Sya'ban 1442 / 10 April 2021

Menyoal Toleransi: Antara Nilai dan Kebebasan

Jumat 17 Nov 2017 13:22 WIB

Red: Elba Damhuri

Kerukunan Beragama (Ilustrasi)

Kerukunan Beragama (Ilustrasi)

Foto: Republika/Mardiah

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Fahruddin Achmad, Ketua Forum Lingkar Pena Sulawesi Selatan

Sejak 1995, Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) menetapkan 16 November sebagai Hari Toleransi Sedunia, melalui resolusi 51/95. Secara mendunia, terkhusus anggota dalam United Nations ini memperingatinya dengan berbagai aktivitas, bertujuan memahamkan masyarakat dunia memaknai perbedaan sebagai kekayaan yang harus dijaga, dilestarikan, dan dipelihara sebagai perwujudan kemanusiaan.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, didefenisikan to·le·ran·si n 1 sifat atau sikap toleran: dua kelompok yg berbeda kebudayaan itu saling berhubungan dng penuh --; 2 batas ukur untuk penambahan atau pengurangan yg masih diperbolehkan; 3 penyimpangan yg masih dapat diterima dl pengukuran kerja; ber·to·le·ran·si v bersikap toleran: sifat fanatik dan tidak ~ menjadi penghambat perundingan ini; me·no·le·ran·si v mendiamkan; membiarkan: Pemerintah tidak akan ~ aparat yg menggunakan dana pembangunan dng dalih berbelit-belit.

Dalam KBBI online: to·le·ran a bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dan sebagainya) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri.

Toleransi sebagai nilai
Jika kita bedah di seluruh belahan dunia, tak ada yang menolak toleransi sebagai sebuah nilai, sebab itu bagian dari naluri; kemanusiaan. Mulai dari keniscayaan berbeda fisiknya tiap manusia, asal usul keluarga, bahasa, sifat, karakter, hingga yang paling sensitif; keyakinan; agama.

Terlepas dari kebenaran hakiki agama berdasar perspektif pemeluknya, sulit menemukan konten kitab yang memerintahkan untuk mendiskreditkan pemeluk agama lain sebagai seorang manusia yang sudah pasti juga ciptaan Tuhan.

Jika kita mencermati hasil survei tahun 2016 tentang negara negara paling toleran di dunia, kesimpulan paling umum karena di sana nilai kemanusiaan sebagai akar perbedaan dijaga dan dijunjung dengan baik. Tujuh negara peringkat awal dapat kita lihat; pertama Islandia yang punya keunggulan 85 persen produksi energinya dari sumber daur ulang, dikuti Finlandia yang menduduki peringkat pertama Social Progress Index tahun 2016.

Selanjutnya, Swedia dengan target penyetaraan jender mencapai 50 persen dalam anggota pemerintahan. Menyusul Norwegia yang unggul di bidang pendidikan, kesehatan, dan kebebasan pers. Selanjutnya, Selandia Baru, Slovenia, dan Swiss.

Meski dalam kaca mata lain, toleransi di negara-negara tersebut teramat liberal, hingga disebut toleransi bebas nilai. Ketika LGBT disahkan sebagai hak asasi manusia, bukankah mencerabut sisi lain tentang manusia, di mana hierarkinya hanya dua jenis kelamin, laki-laki dan perempuan. Juga ketika seks bebas adalah budaya, akan kita temukan amat banyak yang hidup bersama (kumpul kebo) tanpa status nikah.

Lain lagi di Texas, tiap rumah berhak dan bebas punya senjata. Bila seseorang mencoba masuk ke pekarangan rumah orang lain sedang yang punya rumah tak memberi izin, dia punya hak menembak karena merasa diganggu, sah dalam hukum di sana. Sisi lain kebebasan.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

 

BERITA LAINNYA