Friday, 17 Safar 1443 / 24 September 2021

Friday, 17 Safar 1443 / 24 September 2021

Modal Nekad Buat Pesantren Sidogiri Mandiri Secara Ekonomi

Kamis 26 Oct 2017 20:32 WIB

Rep: Muhyiddin/ Red: Esthi Maharani

Sejumlah santri di Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur.

Sejumlah santri di Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur.

Foto: Antara

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pesantren Sidogiri merupakan salah satu pesantren yang telah maju secara ekonomi. Karena, pesantren ini telah lama menggarap jasa keuangan syariah dengan mendirikan koperasi syariah BMT UGT Sidogiri.

Ketua Pengurus Koperasi BMT UGT Sidogiri, Mahmud Ali Zain mengatakan, agar pesantren mandiri secara ekonomi maka harus berani dan berkomit menuntuk membantu masyarakat sekitar pesantren. Menurut dia, Pesantren Sidogiri sendiri hanya bermodal nekat untuk maju secara ekonomi.

"Jadi sebenarnya tinggal komitmen dan beranian pesantren sajauntuk maju secara ekonomi. Yang kami istilahkan dengan bonek, bondo nekat, di situ sebenarnya. Artinya kita harus berani," ujarnya saat dihubungi Republika.co.id, Kamis (26/10).

Ia menyarankan agar pesantren di Indonesia tidak selalu tergantung dengan bantuan pemerintah. Menurut dia, pesantren seharusnya bisa hidup mandiri seperti yang dilakukan Pesantren Sidogiri. "Jadi kita harus berani memulai untuk hidup mandiri, kita jangan menggantungkan ke pemerintahkalau bisa kita bisa membantu negara," ujar penerima penghargaan tokoh danlembaga keuangan inspiratif OJK tahun 2017 ini.

Ia hanya berharap kepada pemerintah agar mempermudah masalah perizinan , sehingga pesantren bisa memulai usahanya, baik di bidang jasa keuangan syariah, pertanian, maupun peternakan. "Itu sebetulnya banyak potensi di pesantren, cuma digalinya saja yang perlu dipahami. Potensinya besar sekali, cuma mereka kadang-kadangmasih kurang bisa menggali potensi itu," katanya.

Ia menjelaskan, Pesantren Sidogiri tidak hanya bisa menggalipotensi dari bidang koperasi syariah BMT saja, tapi juga telah menggali bidang-bidang lainnya seperti bidang pertanian yang diberi nama koperasi agro, bidang ritel yang diberi nama Toko Basmalah, toko bangunan, bahkan bidang yang bersifat sosial seperti lembaga amil zakat dan wakaf.

"Jadi sebetulnya masyarakat masih menaruh kepercayaan yangbesar terhadap orang pesantren, tinggal orang pesantrennya yang perlu memilikiskill atau kemampuan untuk menggali potensi itu," jelasnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 

BERITA TERKAIT

 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA