Monday, 24 Rajab 1442 / 08 March 2021

Monday, 24 Rajab 1442 / 08 March 2021

Gerai Lotus Ditutup, Ini Penyebab Toko Ritel Berguguran

Kamis 26 Oct 2017 18:30 WIB

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Nur Aini

Gerai Lotus Thamrin yang terletak di Jalan Wahid Hasyim Jakarta Pusat.

Gerai Lotus Thamrin yang terletak di Jalan Wahid Hasyim Jakarta Pusat.

Foto: Farah Nabila Noersativa

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Ketua Bidang Ekonomi dan Bisnis Asosiasi E-commerce Indonesia (Idea) Ignatius Untung menilai, toko ritel memang mulai berguguran. Hal itu memang dipengaruhi oleh maraknya toko online.

"Kata saya pusat perbelanjaan ada dua macam. Pertama, ada yang memang cuma buat orang beli, jadi barangnya adalah semi komoditi. Semi komoditi itu nggak begitu peduli merek dan segala macam. Jadi datang ke situ orang beli baju, yang seperti itu berguguran," kata Ignatius di Jakarta, Kamis, (26/10).

Hal itu karena, konsumen lebih memilih belanja lewat online yang tidak perlu macet-macetan, cari parkir, dan lainnya. "Sekarang bahkan toko online fashion sekarang sampai dianterin," ujarnya.

Ignatius menyebutkan, pusat perbelanjaan kedua yaitu mal. Menurutnya mal tetap ramai. "Itu karena orang-orang ke sana bukan sekadar beli barang, jadi mereka ke sana mau ngadem karena kalau ngadem di  taman biarpun bagus tapi panas," katanya.

Hanya saja, kata dia, ada kemungkinan beberapa kategori di mal menurun tapi untuk kategori makan sudah pasti tidak. Pasalnya, meski kini sudah ada layanan delivery makanan, tetapi konsumen pun ingin menikmati pengalamannya.

Baginya, tutupnya industri ritel serta pusat perbelanjaan, bukan karena si pengelola tidak melek teknologi melainkan karena industrinya memang sepi. "Pada 2011, saya ke Cina, mal itu luar biasa sepinya. Lebih banyak pramuniaga dibandingkan pembelinya. Maka di 2012, ketemu jawabannya yaitu karena orang pakai online," tutur Ignatius.

Ia mengatakan, pelaku ritel harus mau menerima masukan sebelum kondisi berubah. "Soalnya ketika bisnis digital naik, ada perusahaan core bisnisnya offline itu merasa kompetitor nggak usah didengarin. Terus baru terasa ketika mulai terganggu," ujarnya.

Ignatius menjelaskan, kini Idea sudah melakukan kerja sama dengan beberapa pusat perbelanjaan. Misalnya Lippo dengan Grab, dengan skema jualan online tapi barang diantar secara offline.  Sayangnya, kata dia, Idea belum memiliki data total transaksi belanja online dari tahun ke tahun. Hal itu karena industri ini masih baru, perusahaannya pun belum go publik maka datanya belum tersedia.

"Mereka (perusahaan e-commerce) masih mencari investor baru. Dengan begitu datanya nggak mau dibuka, tapi kalau growth data kasar itu beda-beda tumbuhnya masih triple digit di atas 100 persen. Belum lihat yang tumbuhnya satu digit, artinya tidak ada di bawah 10 persen," kata Ignatius.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

 

BERITA LAINNYA