Sunday, 23 Rajab 1442 / 07 March 2021

Sunday, 23 Rajab 1442 / 07 March 2021

Bali Bird Park, Ketika Burung dan Manusia Bertemu

Ahad 22 Oct 2017 05:30 WIB

Rep: Mutia Ramadhani/ Red: Andri Saubani

Burung-burung di Bali Bird Park.

Burung-burung di Bali Bird Park.

Foto: REPUBLIKA/Mutia Ramadhani

REPUBLIKA.CO.ID, GIANYAR -- Bali Bird Park adalah rumah bagi ribuan burung langka di dunia. Taman burung terbesar di Pulau Dewata ini dibuka sejak Oktober 1995 untuk fungsi konservasi, edukasi, dan ekowisata. Tak kurang dari seribu ekor burung dari 250 spesies di berbagai benua ada di sini, mulai dari bangsa cendrawasih, kakatua, nuri, pelikan, hingga bangsa predator, seperti elang dan burung hantu.

Bali Bird Park ditata berdasarkan zonasi benua. Habitat burung dibuat menyerupai aslinya supaya hewan tetap sehat dan tidak stres. Tiket masuk untuk dewasa dibanderol Rp 150 ribu per orang, sedangkan tarif anak usia 2-12 tahun dipatok separuhnya. Bayi di bawah dua tahun tidak dikenakan tiket masuk alias gratis.

Anda tak sekadar menyaksikan ribuan ekor burung di taman yang buka setiap hari mulai pukul 09.00-17.30 WITA ini. Banyak aktivitas wisata ditawarkan, seperti menonton film tentang burung dalam versi empat dimensi yang diputar setiap jamnya, atraksi satwa, memberi makan burung, berfoto bersama burung, hingga belajar tentang reproduksi hewan bersayap ini.

Anda juga tak perlu takut kepanasan di tengah cuaca Bali yang menyengat. Bali Bird Park dinaungi beraneka jenis pohon rindang, dilengkapi dengan air mancur di sana sini, membuat lingkungan sekitarnya tetap sejuk dan nyaman.
Bali Bird Park ditanami lebih dari dua ribu tanaman tropis. Ini menjadi magnet tersendiri bagi spesies selain burung, khususnya kupu-kupu.

Pengunjung membutuhkan waktu setidaknya dua hingga tiga jam untuk bisa menikmati sebagian besar aktivitas wisata di Bali Bird Park. Lelah tak jadi soal, sebab sebuah restoran siap memanjakan perut yang lapar. Toko suvenir pun disediakan, sehingga pengunjung bisa membawa pulang oleh-oleh yang disuka.

Taman burung yang berlokasi di Jalan Serma Cok Ngurah Gambir, Batubulan, Gianyar ini ternyata stroller friendly. Ibu-ibu yang membawa kereta bayi atau lansia yang menggunakan kursi roda tetap bisa berkeliling taman dengan nyaman. Ada jalur khusus disediakan untuk mereka.

Atraksi satwa adalah momen yang selalu ditunggu pengunjung. Imajinasi Anda diajak melayang bersama kepak sayap burung-burung pintar yang mengikuti perintah tuannya. Sejumlah pemandu akan menyajikan Anda pertunjukan satwa burung yang tak akan terlupa.

Basic Instinct mengajarkan bagaimana elang, celepuk, dan burung hantu bisa terbang, melayang, menukik ketika mangsa mereka ada di depan mata. Pasangan burung enggang dan rangkong tak ingin kalah lincah, meski tubuh mereka jauh lebih besar dibanding burung-burung lainnya. Mereka menunjukkan insting alaminya saat mencari biji-bijian yang disembunyikan tuannya.

Burung warna-warni siap bertengger di lengan atau bahu Anda. Ada spot untuk berfoto bersama satwa. Pasangan burung kakatua nan kharismatik, Eclectus Parrot di mana jantannya bewarna hijau zamrud, sementara betinanya merah siap tersenyum bersama Anda. Ada juga burung ikonik lainnya, seperti Anna Maria, si kakatua kepala hitam, atau Wreathed Hornbill, burung pelatuk cantik dengan paruh kuat panjang.

Anak-anak bisa dilibatkan memberi makan burung pelikan. Mereka bisa melihat bagaimana kantong di paruh bawah burung air ini bisa membesar sampai tenggorokan ketika mereka memakan ikan.

Bali Bird Park berkontribusi dalam perlindungan dan pelestarian satwa langka di Indonesia. Sebagian dari burung yang dikembangbiakkan di sini akan dikembalikan ke alam, seperti taman nasional.

Perdagangan ilegal menjadi salah satu ancaman serius pelestarian burung di Indonesia. Permintaan pasar untuk jenis-jenis burung tertentu, khususnya burung pengicau dan burung kharismatik sangat tinggi, sehingga mempercepat laju kepunahannya di alam.

Penelitian Arif Rudiyanto dari Yayasan Kanopi Indonesia dalam penelitiannya menyatakan hampir semua jenis burung, khususnya burung pengicau ordo Paasseriformes ditangkap dan diperdagangkan sebagai hewan peliharaan. "Ini menyebabkan kenaikan daftar spesies burung terancam punah," katanya.

Burung dan manusia pada dasarnya sama, memiliki alam semesta sebagai sangkarnya. Burung layaknya manusia berhak bebas hidup di alam, sehingga kelestarian mereka merupakan bagian dari tanggung jawab kita.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

 

BERITA LAINNYA