Wednesday, 12 Muharram 1444 / 10 August 2022

Gubernur Baru dan Amnesia Sejarah

Kamis 19 Oct 2017 04:01 WIB

Red: Elba Damhuri

Angga Indrawan, Jurnalis Republika.

Angga Indrawan, Jurnalis Republika.

Foto: Republika

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Angga Indrawan, Jurnalis/Redaktur Republika untuk Isu-Isu Politik dan Nasional

Sejarah punya cerita, gedung balai kota DKI Jakarta terkait erat dengan kolonialisme di tanah Batavia tempo dulu. Batavia--yang diambil dari nama suku Bataaf, suku moyang orang Belanda--menjelma jadi kota praja pada 1903 seiring desentralisasi yang dilakukan Pemerintah Hindia-Belanda kala itu.

Dan, gedung balai kota di Medan Merdeka Selatan 8-9 ini menjadi saksi sejarah perjalanannya. Gedung balai kota itu menjadi kantor pemerintahan sejak tahun 1919--seiring pemindahan Dewan Kota dari Tanah Abang.

Sebelum tahun itu, gedung pemerintahan memang kerap berpindah tempat, mulai di Stadhuisplein (sekarang taman Museum Sejarah Jakarta) pada 1905, hingga berkantor di Tanah Abang West (Jalan Abdul Muis no 35) pada 1913.

Saat itu, wilayah Batavia pun masih dikelilingi rawa-rawa: Stad de Voorsteden (Utara), Meester Cornelis (Timur), Tangerang (Barat), dan Buitenzorg (Selatan). Semasa itu juga, penjajahan, kolonialisasi, memang tak terbantahkan terekam dalam sejarah.

Namun mungkinkah sepenggal sejarah itu terlintas di kepala seorang Anies Baswedan ketika ia bicara soal 'pribumi' dan 'penjajahan' zaman Belanda?. Di gedung itu, bangunan tua yang semasa kolonial berlokasi di Koningsplein zuid Batavia, Anies bicara di hadapan ribuan simpatisan dan pemilihnya di Pilgub DKI 2017.

Tema kolonialisme disentuh--meski sedikit, ketika ia baru saja diberikan mahkota DKI 1 usai 'perang' sengit kontestasi elektoral tanah bekas kejayaan Fatahillah. Romantisme kolonial yang hendak dibangun Anies Baswedan dalam pidatonya boleh dibilang kering sejarah.

Bukan tanpa sebab, kolonialisme tak cukup dibahas hitungan jam, apalagi menit, atau diurai cukup sebaris kata dalam teks pidato sederhana. Kolonialisme merupakan cerita panjang. Ruang dan waktu kolonialisme khususnya di Jakarta pun terbagi dalam beberapa fase, mulai dari keberadaan VOC, hingga Pemerintahan Hindia-Belanda. Rangkaian itu dilalui Jakarta yang kini memasuki usia ke-490 tahun.

Malam itu, entah Anies berpijak dalam kolonialisme di fase apa, dan kapan?

Jakarta adalah satu dari sedikit tempat di Indonesia yang merasakan hadirnya penjajah dalam kehidupan sehari-hari selama berabad-abad lamanya. Rakyat pribumi ditindas dan dikalahkan oleh kolonialisme. Kini telah merdeka, saatnya kita jadi tuan rumah di negeri sendiri. Jangan sampai terjadi di Jakarta ini apa yang dituliskan dalam pepatah Madura, Itik se a telor, ayam se ngeremme. Itik yang bertelur, ayam yang mengerami. Seseorang yang bekerja keras, hasilnya dinikmati orang lain.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 

BERITA TERKAIT

 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA