Saturday, 11 Safar 1443 / 18 September 2021

Saturday, 11 Safar 1443 / 18 September 2021

Menyaksikan Sejarah Kelam di Malam Minggu

Sabtu 30 Sep 2017 21:38 WIB

Red: Ratna Puspita

Ribuan warga Mataram memadati Lapangan Sangkareang untuk menyaksikan pemutaran film ‘Pengkhianatan G30S/PKI’ pada Sabtu (30/9) malam. 

Ribuan warga Mataram memadati Lapangan Sangkareang untuk menyaksikan pemutaran film ‘Pengkhianatan G30S/PKI’ pada Sabtu (30/9) malam. 

Foto: Republika/Muhammad Nursyamsyi

Oleh Muhammad Nursyamsyi
Wartawan Republika

Akhir pekan menjadi waktu yang tepat bagi Sopian untuk berkeliling kota. Maklum saja, pada hari-hari biasa, pemuda berusia 18 tahun ini disibukan dengan kegiatan perkuliahan di Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram.

Sopian yang baru menginjak semester satu di Jurusan Perbankan Syariah, Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam (FSEI), sudah bersiap diri keluar rumah sejak sore hari. Bada shalat Ashar menjadi waktu yang tepat baginya keluar rumah. Jaket warna hitam dan celana pendek sudah cukup untuk Sopian berjalan-jalan.

Dari rumahnya di Labuapi, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB). Sopian mulai memacu sepeda motor peninggalan ayahnya. Tujuannya ialah Kelurahan Turida yang berada di Kecamatan Sandubaya, Kota Mataram. Jarak sepanjang 5 Km atau sekitar 14 menit, ia tempuh untuk bisa berjumpa seorang sahabatnya, Riyad Firdaus (18) yang bermukim di Turida.

Rupanya, kedua pemuda ini sudah janjian sebelumnya untuk nongkrong di Mataram. Serupa dengan Sopian, Firdaus juga mengenakan celana pendek dan jaket berwarna hitam.

Dari Turida, Sopian dan Riyad mulai berjalan-jalan memutari Mataram, hingga akhirnya ‘terdampar’ di Lapangan Sangkareang. Keramaian menjadi nama lain dari lapangan yang berada di jantung Kota Mataram ini.

Letaknya yang bersebelahan dengan Kantor Wali Kota Mataram, dan Kantor Gubernur NTB, serta tak jauh dari Kompleks Islamic Center NTB, membuat lapangan ini tak pernah sepi dari pengunjung. Terlebih di malam minggu seperti ini.

"Enak nongkrong di sini, ramai dan luas juga lapangannya. Terus jajanannya juga murah-murah," ujar Sopian membuka percakapannya dengan Republika pada Sabtu (30/9) malam.

Sopian yang mengaku sudah beberapakali kongkow di Sangkareang mengaku agak kaget dengan suasana pada malam minggu kali ini. Banyaknya tentara yang berada di Sangkareang sempat membuat ia bertanya-tanya. Usut punya usut, acara nonton bareng (nobar) film Pengkhianatan G30S/PKI menjadi alasannya.

"Awalnya juga kaget kok ramai sekali TNI, ya sudah sekalian saja ikut nonton," ucap Sopian.

Pengetahuan Sopian dan Riyad sangat terbatas tentang gerakan Partai Komunis Indonesia (PKI). Sepanjang pengalamannya duduk di bangku sekolah, referensi akan gerakan PKI sangat sedikit sekali diberikan gurunya. Pun dengan isi materi yang termuat dalam mata pelajaran.

Hal itu yang membuat keduanya tidak bisa menjelaskan apa-apa tentang gerakan PKI. Begitu juga soal film Pengkhianatan G30S/PKI, yang diketahui lantaran marak diberitakan dan dibubarkan di media sosial.

Sepanjang bergulat dengan telepon pintarnya, baik Sopian maupun Riyad belum pernah menonton film atau cuplikan film ini di Youtube atau laman lain yang ada di dunia maya. "Makanya, pas nongkrong di sini ada diputar film yang lagi ramai dibicarakan sosial media, ya sekalian saja kita menonton," ungkap Sopian.

Sopian dan Riyad tampak tak canggung nobar film ini bersama ribuan warga Mataram yang memadati Lapangan Sangkareang, termasuk keluarga TNI. Selain Sopian dan Riyad, ada juga tiga dara dari Fakultas Kedokteran, Universitas Mataram (Unram). 

Adalah Lina, Alfi, dan Puput. Ketiganya berusia 20 tahun. Kedatangannya ke Lapangan Sangkareang cukup berbeda dari kebanyakan orang. Bencana Gunung Agung di Bali menjadi penyebabnya. Ketiganya membawa kardus berisi tulisan penggalangan dana untuk pengungsi Gunung Agung, lengkap dengan almamater kampus.

Menurut Lina, aksi solidaritas Fakultas Kedokteran Unram ini tak hanya dilakukan di Lapangan Sangkareang, melainkan juga di simpang Kota Tua Ampenan dan Simpang Islamic Center NTB. Kebetulan, ketiganya mendapat lokasi di Lapangan Sangkareang.

Rencananya, bantuan yang diberikan akan langsung dikirim ke Bali, untuk meringankan beban para pengungsi di Bali. "Kami di sini (Lapangan Sangkareang) dari tadi bada maghrib," kata Lina.

Baik Lina, Alfi, maupun Puput mengaku belum pernah menonton film Pengkhianatan G30S/PKI. Ketiga mengaku tergoda untuk menyaksikan film yang ramai dibicarakan Warganet.

"Ya, semoga sambil menggalang dana untuk pengungsi di Bali kita bisa ikut menonton meski tidak secara penuh," lanjut Lina.

Acara nobar film Pengkhianatan G30S/PKI di Lapangan Sangkareang diprakarsai Komando Resor Militer 162/Wirabhakti. Danrem 162/WB Kolonel Inf Farid Makruf mengajak seluruh warga Mataram untuk berbondong-bondong ke Lapangan Sangkareang pada Sabtu (30/9) malam.

"(Nonton bareng) ini untuk mengingatkan kita kembali, bahwa pernah terjadi secara kelam pada bangsa kita," ucap Farid.

Farid menambahkan, pemutaran film G30S/PKI juga merupakan sarana yang tepat untuk mengingatkan para generasi muda akan sejarah kelam ini. "Sehingga timbul kesadaran, pernah di suatu masa ada yang ingin mengganti ideologi negara, nah itu yang tidak boleh terjadi, Pancasila itu harga mati," kata Farid menambahkan.

Acara nobar film Pengkhianatan G30S/PKI dimulai sekitar pukul 20.30 Wita, diawali sambutan dari Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi NTB Sahdan Ilyas. Sahdan mengatakan, kebiadaban PKI melakukan pengkhianatan terhadap bangsa dan membunuh para jenderal, ulama, dan warga sipil lain memori kelam yang tidak boleh dilupakan.

"Pada 1965, saya masih kelas 2 SMA, dan hal itu masih terngiang hingga sekarang," kata Sahdan.

Kondisi ini agak berbeda dengan jaman sekarang, di mana menurut Sahdan, banyak generasi muda yang tidak tahu sejarah kebiadaban PKI. Sahdan memandang, pembekalan dan pelajaran sejarah kelam PKI wajib diinformasikan kepada para generasi muda sebagai pembelajaran dan mengingat agar hal ini tidak terulang kembali.

Sahdan menegaskan, para pimpinan agama di NTB senada bahwa gerakan PKI tidak bisa ditolerir untuk ada di Bumi Pertiwi. Sahdan menambahkan, ideologi PKI yang tidak mengakui adanya Tuhan, dan ingin mengganti dasar negara Pancasila merupakan hal yang berbahaya bagi bangsa Indonesia.

"PKI memang sudah dibubarkan dan jadi partai terlarang, tapi kita wajib mewaspadai gejala gaya baru PKI yang bertentangan dengan ideologi pancasila," tegas Sahdan.

Dua mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Mataram melakukan penggalangan dana untuk pengungsi Gunung Agung di sela-sela nonton bareng film Pengkhianatan G30S/PKI, Sabtu (30/9) malam. (Sumber: Republika/Muhammad Nursyamsyi)

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 

BERITA TERKAIT

 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA