Sunday, 19 Safar 1443 / 26 September 2021

Sunday, 19 Safar 1443 / 26 September 2021

'Pengetahuan Tentang Budaya Jawa Semakin Sedikit'

Jumat 22 Sep 2017 09:15 WIB

Red: Esthi Maharani

Tugu Yogyakarta

Tugu Yogyakarta

Foto: Republika/Imam Budi Utomo

REPUBLIKA.CO.ID,YOGYAKARTA -- Studio Pertunjukan Sastra Yogyakarta bekerja sama dengan Taman Budaya Yogyakarta kembali menggelar Bincang-bincang Sastra dengan mengusung tajuk "Kalamangsa: Srawung Kawruh Media Sastra Jawa" pada Sabtu 23 September 2017, pukul 20.00 di Ruang Seminar Taman Budaya Yogyakarta.

"Dalam acara ini akan hadir sebagai pembicara, Ratun Untoro (Kalawarti Pagagan Balai Bahasa DIY), Ahmad Jalidu (Penerbit Garudhawaca), Fajar Laksana (Kalawarti Mapah Mangsa Sastra Nusantara, UGM Yogyakarta)," kata Ketua Studio Pertunjukan Sastra (SPS) Yogyakarta Mustofa W. Hasyim, Jumat (22/9).

Ia mengatakan, untuk moderator dalam acara ini dihadirkan Taufiq Hakim, juga akan ditampilkan pembacaan sandiwara bahasa Jawa oleh Titer Kamasutra (Jurusan Sastra Nusantara UGM Yogyakarta) dan pembacaan cerkak oleh Cak Kandar (Studio Pertunjukan Sastra).

"Kalau di zaman sekarang manusia Jawa mengalami kesenjangan dalam srawung (interaksi) rasa-rasanya wajar-wajar saja. Katena tempat untuk srawung pengetahuan tentang budaya Jawa semakin sedikit. Tidak menutup kemungkinan lama-lama akan hilang," katanya.

Menurut dia, media massa berbahasa Jawa dan khusus sastra Jawa yang memuat nilai-nilai Jawa menjadi salah satu cara yang barangkali bisa diharapkan peranannya. Apalagi saat ini media informasi sudah berkembang amat sangat cepat dengan adanya internet.

"Di situlah tempat 'pasrawungan' manusia Jawa hari ini. Pertanyaannya, sejauh mana masyarakat Jawa memanfaatkan keberadaan media informasi itu untuk perkembangan budaya dan sastra Jawa? Sementara kita tentu saja tidak bisa meninggalkan yang namanya kalawarti bahasa dan sastra Jawa yang ada hingga saat ini. Lantas bagaimana peranan media cetak, dalam hal ini kalawarti bahasa dan sastra Jawa di tengah masyarakat? Apakah masih banyak yang menantinya terbit lalu membacanya?," katanya.

Koordinator acara Latief S Nugraha mengatakan Studio Pertunjukan Sastra sedang mencoba belajar kembali mengenai sastra Jawa.

"Di dalam Bincang-bincang Sastra edisi 144 ini akan kembali menerka sejauh mana perkembangan kualitas karya sastra Jawa dan perkembangan media penyebarannya di era multi media sekarang ini," katanya.

Ia mengatakan, karena itulah dihadirkan dalam acara ini peneliti yang sekaligus redaktur kalawarti sastra Jawa Pagagan dari Balai Bahasa DIY, Ratun Untoro.

"Selain itu, ada Fajar Laksana perwakilan dari mahasiswa Prodi Sastra Nusantara UGM sebagai generasi milenial yang menginisiasi lahirnya majalah sastra berbahasa Jawa dengan mengedepankan warna bahasa dialek lokal di Jawa, yakni kalawarti Mapah Mangsa yang kini tengah memasuki edisi ke-III," katanya.

Sementara untuk perkembangan sastra Jawa di media dalam jaringan (daring) dan penyediaan buku-buku budaya dan sastra Jawa cetak maupun elektronik dihadirkan Ahmad Jalidu.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA