Monday, 24 Rajab 1442 / 08 March 2021

Monday, 24 Rajab 1442 / 08 March 2021

Masyarakat Modern Butuh Tafsir Alquran yang Mudah Dicerna

Jumat 08 Sep 2017 21:33 WIB

Rep: Taufiq Alamsyah/ Red: Endro Yuwanto

Alquran

Alquran

Foto: Republika/Agung Supriyanto

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Terjemahan dan tafsir Alquran harus dapat dipahami secara baik oleh masyarakat luas. Ini agar makna dan pesan Alquran dapat sampai dengan baik.

Stan Mizan di Indonesia International Book Fair (IIBF) 2017 menawarkan buku "The Message of the Quran" karya Muhammad Asad. Buku tafsir Alquran tersebut digadang-gadang sebagai tafsir modern yang dapat dicerna dengan mudah oleh banyak kalangan. Asad sendiri adalah cendekiawan muda berpengaruh di Eropa abad ke-20.

"Bagi saya penerjemahan buku ini salah satu pekerjaan paling penting dalam 34 tahun sejarah Mizan," ujar Presiden Direktur Penerbit Mizan Haidar Bagir pada Jumat (8/9).

Haidar mengaku meminta dengan keras agar buku tersebut diterjemahkan dengan sebaik-baiknya. "Saya tidak mengatakan ini tafsir terbaik. Dalam segenap kekaguman saya, saya katakan ada bagian dari buku ini yang saya tidak setujui," ungkap dia.

Kelebihan buku ini, lanjut Haidar, yaitu tidak meninggalkan satupun ayat Alquran yang tidak dapat dipahami maksudnya. Menurut dia tugas generasi tua harus meninggalkan warisan terjemahan Alquran kepada generasi muda.

"Saya mengucapkan terima kasih kepada Mizan yang telah menghadirkan terjemahan The Message," kata Muchlis Hanafi, ahli tafsir yang juga Ketua Tim Revisi Penerjemahan Alquran Kementrian Agama.

Muchlis melihat Asad tidak menamakan bukunya sebagai terjemahan atau tafsir. Judul tersebut merupakan tambahan dari Mizan.

"Asad tidak menamakan demikian karena kerendahan hati. Yang kedua beliau memahami rasanya tidak mungkin untuk menerjemahkan Alquran. Dunia ini terlalu miskin untuk menerjemahkan Alquran," ucap petugas penerjemah dalam pertemuan Presiden Jokowi dan Raja Salman tersebut.

Menurut Muchlis, yang terpenting adalah karya ini memadukan antara otentisitas dan modernitas. Karena Asad banyak merujuk pada karya klasik. Terutama dalam memilih makna kata dalam Alquran. Di sisi lain, Asad memadukan modernitas, pada titik ini Alquran harus dibaca dalam kacamata progresif. Dengan mengikuti zaman.
"Dengan cara itu Asad mengajak kita bicara Alquran dengan rasionalitas," kata Muchlis.

Ajang pameran buku bertaraf internasional IIBF berlangsung dari 6-10 September 2017. Kegiatan ini diselenggarakan di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan.

IIBF 2017 diikuti sejumlah negara, di antaranya Indonesia, Filipina, Malaysia, Singapura, Thailand, Cina, Korea, Jepang, Jerman, Prancis, Belanda, Bosnia, India, Mesir, Saudi Arabia, dan Inggris. Dalam acara tersebut juga diberikan penghargaan IKAPI Award untuk tiga kategori.

Ada begitu banyak tawaran potongan harga dari berbagai penerbit. Selain pameran buku, ada banyak acara menarik. Seperti perlombaan, temu wicara, dan bedah buku.


BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA