Thursday, 7 Zulqaidah 1442 / 17 June 2021

Thursday, 7 Zulqaidah 1442 / 17 June 2021

Al-Muhasibi dan Wasiat Kebajikan

Kamis 24 Aug 2017 16:15 WIB

Rep: Nashih Nasrullah/ Red: Agung Sasongko

Memberi nasihat merupakan anjuran agama (ilustrasi).

Memberi nasihat merupakan anjuran agama (ilustrasi).

Foto: Blogspot.com

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Salah satu peran penting wasiat adalah penyampaian pesan kebajikan. Ini seperti yang pernah dituangkan oleh Abu Abdullah al-Harits bin Asad bin Ma'qil al-Hamdani al-Muhasibi (243 H). Kerusakan moral yang terjadi kala itu dipandang cukup akut.

Tidak hanya melanda kalangan awam, tetapi juga mewabah pada level para ulama dan cendekiawan. Al-Muhasibi lewat beberapa catatannya memberikan pelajaran penting tentang cara menyikapi problematika keumatan.

Al-Muhasibi menuangkan analisis dan penilaian kritisnya itu dalam sebuah kitab bertajuk al-Washaya. Awalnya, al-Muhasibi tidak langsung memberikan tajuk besar bagi kitabnya itu. Ia memang sering tak memberi judul kitab-kitab yang ditulisnya. Sepanjang hidupnya, ia menulis lebih dari 200 risalah dan sebagiannya tak diberi judul.

Kitab al-Washaya pada dasarnya merupakan kumpulan dari beberapa kitab yang ditulis al-Muhasibi. Beberapa di antaranya yang telah berhasil ditahkik dan telah diterbitkan, antara lain, Bud'u man Anaba Ilallah, sebuah kitab yang dipublikasikan oleh seorang orientalis asal Jerman, Halmout Reiter.

Al-Washaya juga memuat kitab tentang tata cara shalat (fahm as-shalat). Selain itu, dalam kitab at-Tawahhum, al-Muhasibi secara spesifik menyampaikan nasihat-nasihat, khususnya menyinggung ihwal kondisi di alam barzah dan akhirat kelak. Antara lain, tentang sakitnya kematian, kondisi kiamat yang mengerikan, siksa bagi orang kafir, serta syafaat dan balasan surga bagi hamba-Nya.

Kumpulan beberapa kitab karya al-Muhasibi itu oleh seorang muhakik diberi judul al-Washaya, lantaran kitab itu tak hanya memuat rentetan khutbah atau nasihat kering yang acap kali disampaikan oleh para ulama semasanya. Lebih dari itu, al-Washaya dan bahkan hampir keseluruhan kitab karya al-Muhasibi ditulis sebagai hasil kontemplasi dan pengalaman tajribah atau olah spiritual yang mendalam.

Ketajaman penanya tak cuma menyentuh sisi penempaan jiwa, tetapi juga kental bahasan syariat melalui perspektif ilmu fikih. Hampir tiap kitab yang pernah ditulisnya merupakan dokumentasi hasil percakapannya dengan beberapa tokoh. Ada yang berupa jawaban atas pertanyaan, ada pula analisis pribadi untuk menjawab suatu permasalahan. Sisi inilah yang menjadikan al-Washaya unggul dibandingkan dengan karya yang pernah ada serta yang ditulis di masa berikutnya.

Melalui kitab itu, al-Muhasibi hendak menawarkan sebuah konsep untuk membentuk karakter insan integral, mutakamil. Rumusnya sederhananya adalah bagaimana manusia bisa terbebas dari penyakit hati, baik yang diakibatkan oleh kurangnya persiapan dalam bertasawuf dan bertarekat maupun disebabkan oleh perkara dunaiwi yang rendah. Dengan kata lain, penyakit fisik ataupun nonfisik.

Kedua sisi ini dalam pandangan al-Muhasibi harus ditangani secara seimbang. Apabila kedua hal ini bisa terpenuhi seimbang maka dengan sendirinya agama samawi bisa dipraktikkan pula secara proporsional dan tepat.

Menurut al-Muhasibi, kunci utama menjaga keseimbangan adalah menundukkan hati. Bagian tubuh ini adalah unsur terpenting dalam diri manusia. Menaklukkan hati bukan perkara mudah, membutuh komitmen dan konsistensi tinggi. Resep sederhana yang mungkin ditempuh, yaitu memutus mata rantai syahwat dan hawa nafsu. Menundukkan hawa nafsu dilakukan, antara lain, dengan membiasakan diri berpuasa dan tidak tamak makan atau minum. Dengan menahan lapar itulah, faktor utama memutuskan hawa nafsu.

Al-Muhasibi menjelaskan, penyakit fisik yang paling mendasar yang harus dihindari adalah kecintaan dan mengagungkan dunia. Mencinta dunia dapat mengalihkan hak-hak Allah dan melanggar batas-batas yang telah ditentukannya.

Harta merupakan pangkal dari kerusakan di alam semesta. Gara-gara harta antara satu sama lain kerap saling menghasut, berseteru, dan bunuh-membunuh. Demikian halnya menyangkut persoalan ibadah, belajar, ataupun berinteraksi dengan sesama.

Harta bisa memicu masalah. Akibat harta, integritas dan kesucian ilmu bisa ternoda oleh penyakit yang berbahaya, seperti memperjualbelikan agama untuk dunia. Integritas yang ditawarkan al-Muhasibi bukan tanpa bukti dan praktik nyata.

Contoh kecil telah ditunjukkannya tatkala ia menolak menerima harta warisan yang ditinggalkan ayahnya. Penolakan itu didasari atas keyakinan tentang takdir dan Mazhab Qadariyah yang dianut oleh sang ayah. Satu sikap wara', kehati-hatian dan tak mudah terlena oleh gemerlap harta ataupun kekayaan.

Rasulullah sudah pernah menggambarkan hal itu akan terjadi baik yang disebutkan dalam Alquran maupun sunahnya. Salah satunya, sebuah atsar pernah memberikan peringatan jelas tentang umat yang akan terbuai oleh dunia.

Rasulullah bersabda, “Niscaya akan datang setelahku (meninggal dunia) memakan iman kalian sebagaimana api melahap kayu kering.” Riwayat lain mengatakan, bahwasanya tak ada perkara lain setelah perbuatan syirik kepada Allah yang dibenci oleh Sang Khalik selain mencintai dunia. Wasiat dan peringatan sama juga pernah diterima oleh Nabi Musa AS. Musa diberi peringatan agar tak mudah terjerumus dan terbuai dunia. Karena, tidaklah ada dosa besar yang lebih parah jika dibandingkan dengan mencintai dunia.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA