Tuesday, 29 Ramadhan 1442 / 11 May 2021

Tuesday, 29 Ramadhan 1442 / 11 May 2021

Masyarakat Harus Bantu Identifikasi Anak Alami Depresi

Senin 31 Jul 2017 05:07 WIB

Red: Hazliansyah .

Anak depresi (ilustrasi)

Anak depresi (ilustrasi)

Foto: Boldsky

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Provinsi Jawa Barat, Netty Heryawan mengatakan keluarga memiliki peranan besar terhadap upaya mencegah seseorang melakukan tindakan bunuh diri.

"Maraknya permasalahan sosial yang ada di masyarakat tentunya sangat memprihatinkan. Terlebih tindak kekerasan yang menimpa anak-anak baik fisik, psikis dan seksual. Ditambah saat ini yang menarik perhatian tentang kasus bunuh diri, bukan saja dilakukan oleh dewasa namun sekarang tidak segan dilakukan anak-anak," kata Netty di Bandung, Senin.

Ia mengatakan anak merupakan produk keluarga dan apa pun yang dilakukan menjadi pilihan anak-anak tidak dapat dilepaskan sepenuhnya dari pola pengasuhan, interaksi dan komunikasi dalam keluarga.

Kalau pola pengasuhan dilakukan dengan baik, lanjutnya, adanya kehangatan, keterbukaan dan kebersamaan maka setiap masalah yang dihadapi anak pasti akan diketahui orangtua.

"Setiap masalah pasti bisa didiskusikan apa yang menjadi solusi dan jalan keluarnya," kata dia.

Menurut Netty ada jenis orangtua yang tidak memiliki pengetahuan dan kemampuan dalam pengasuhan sehingga membuat anak menjadi introvert atau rendah diri.

Sejatinya, anak dan keluarga tidak boleh ada sekat. Anak-anak introvert cenderung mendapatkan orangtua yang tidak peduli dan empati apa yang dialami anak.

"Sehingga ketika anak mengalami masalah dan merasa tidak ada jalan keluar, merasa sendirian dan akhirnya pilihan-pilihan yang diambil merugikan diri sendiri," ujar dia.

Selain pengasuhan dan tipe kepribadian anak yang menutup diri, Netty mengingatkan untuk ditajamkannya kepedulian dan masyarakat harus dapat mengidentifikasi anak yang mengalami depresi dan masalah berada sekolah atau ditengah lingkungan masyarakat.

Menurut dia, Peringatan Hari Keluarga dan Hari Anak dapat menjadi momentum bahwa "anakku adalah anakmu, anakmu adalah anakku" dalam konteks perlindungan.

"Siapapun yang menemukan anak Indonesia bermasalah, murung tidak ceria, tidak sehat dan kekurangan gizi seharusnya dapat difasilitasi dengan berbagai peran yang dimiliki oleh unsur masyarakat maupun unsur pemerintah," kata dia.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA