Tuesday, 18 Rajab 1442 / 02 March 2021

Tuesday, 18 Rajab 1442 / 02 March 2021

10 Trik Membuat Fastfood Lebih Sehat untuk Anak

Ahad 02 Jul 2017 19:41 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Esthi Maharani

Makanan cepat saji

Makanan cepat saji

Foto: Smartertravel

REPUBLIKA.CO.ID, Kesibukan tak jarang membuat orang tua tidak memiliki banyak waktu untuk menyiapkan makanan di rumah. Tak jarang, gerai makanan cepat saji menjadi pilihan praktis untuk mendapatkan makanan dengan cepat dan mudah.

Meski praktis dan lezat, kandungan kalori, gula dan sodium yang tinggi pada makanan cepat saji patut diwaspadai. Untuk itu, orang tua perlu melakukan beberapa penyesuaian agar makanan cepat saji dapat dikonsumsi anak dengan cara yang lebih sehat.

"Sehingga anak-anak dapat belajar bagaimana menyesuaikan makanan cepat saji dalam kehidupan mereka di masa mendatang," kata ahli gizi anak Jill Castle seperti dilansir CNN.

Beberapa ahli gizi anak mengungkapkan 10 trik yang bisa dilakukan orang tua agar makanan cepat saji yang dikonsumsi anak menjadi lebih 'sehat'. Berikut ini ialah kesepuluh trik tersebut.

Bawa camilan sehat
Sebelum menuju gerai makanan cepat saji, Castle menyarankan agar orang tua mempersiapkan makanan ringan yang sehat terlebih dahulu. Makanan ringan yang sehat ini bisa berupa buah-buahan yang sudah dipotong, keju, maupun yogurt. Camilan sehat ini bisa dikonsumsi anak selama mereka menunggu makanan cepat saji dihidangkan. Dengan begitu, perut anak akan terisi lebih dahulu sehingga anak tidak akan mengonsumsi makanan cepat saji secara berlebihan.

Pilih Menu Sesuai Usia Anak
Gerai atau restoran cepat saji biasanya memiliki beragam pilihan menu. Orang tua sebaiknya memilih menu khusus anak untuk anak mereka. Alasannya, besaran porsi dalam menu anak biasanya lebih kecil karena disesuaikan dengan kebutuhan anak.

"Porsi reguler di restoran cepat saji cenderung banyak dan terlalu besar untuk anak," ungkap ahli gizi anak lainnya, Nicole Silber.

Hindari Kentang Goreng
Salah satu cara membuat makanan cepat saji menjadi lebih seimbang ialah dengan menambahkan buah, sayuran dan makanan berbasis susu. Tambahan ini jauh lebih menyehatkan dibanding mengonsumsi kentang goreng. Salad, stik wortel dan stik seledri dapat menjadi opsi bagi orang tua untuk diberikan kepada anak.

Berbagi Dengan Anak
Orang tua juga bisa berbagi satu porsi makanan cepat saji dengan anak. Cara ini cukup efektif untuk membuat porsi makanan cepat saji menjadi lebih kecil. Dengan begitu, anak tidak akan mengonsumsi makanan cepat saji secara berlebihan.

"Dan menambahkannya dengan buah dan sayur segar," kata ahli gizi Victoria Stein Feltman.

Jauhi Soda
Minuman bersoda memang tak terpisahkan dari makanan cepat saji. Akan tetapi, anak sebaiknya tidak diberikan minuman bersoda saat berkunjung ke gerai atau restoran cepat saji. Orang tua bisa mengganti minuman bersoda dengan minuman lain yang jauh lebih sehat yaitu air putih atau susu tanpa perisa tambahan.

Jus buah juga bisa menjadi alternatif pengganti minuman bersoda. Akan tetapi jumlah asupan jus harus dibatasi sesuai usia anak. Jumlah jus untuk anak berusia 1-3 tahun tidak boleh melebihi 4 ons per hari. Untuk anak berusia 4-6 tahun disarankan hanya 4-6 ons jus buah per hari. Sedangkan asupan jus untuk anak berusia 7-18 tahun tidak boleh melebihi 8 ons per hari.

Ungkapkan Ekspektasi Sebelum Pergi
Sebelum berkunjung ke gerai atau restoran cepat saji, orang tua perlu mengomunikasikan apa saja yang boleh dan tidak boleh dipesan oleh anak. Sebagai contoh, orang tua bisa meminta anak untuk tidak memesan kentang goreng saat sudah tiba di restoran.

"Mengelola ekspektasi anak dapat membantu dan menurunkan rasa frustasi dan kemungkinan tantrum pada anak ketika memesan makanan," jelas Silber.

Ambil Keputusan Soal Pencuci Mulut
Sebelum mendatangi restoran cepat saji, orang tua harus memutuskan apakah makanan pencuci mulut akan masuk ke dalam menu yang dipesan atau tidak. Jika tidak, makanan pencuci mulut tidak boleh dipesan dengan alasan apapun. Jika termasuk, orang tua tidak boleh memberikan syarat pada anak demi pencuci mulut tersebut. Memberi syarat pada anak untuk mendapatkan pencuci mulut hanya akan membuat anak lebih fokus terhadap pencuci mulut.

Tidak Sambil Main
Beberapa restoran cepat saji menyediakan tempat bermain yang menarik untuk anak, seperti perosotan. Castle menyarankan agar orang tua tidak membiarkan anak makan sambil bermain. Hal ini hanya akan membuat makanan cepat saji yang dikonsumsi anak menjadi tidak terkontrol. Jika ingin bermain, disarankan agar anak bermain sebelum atau setelah makan.

Ajarkan Remaja Kebiasaan Hidup Sehat
Remaja memang membutuhkan lebih banyak kalori dibandingkan orang dewasa, khususnya ketika masa pertumbuhan. Akan tetapi, bukan berarti remaja bisa dengan bebas mengonsumsi makanan cepat saji yang berkalori tinggi. Orang tua perlu membiasakan remaja untuk memilih makanan yang menyehatkan agar nantinya remaja menjadi lebih sadar akan pilihan makanan yang mereka konsumsi.

"Beritahu mereka semua opsi (makanan yang ada) dan dorong mereka untuk memilih makanan yang akan membuat mereka berenergi dan sehat," ungkap Feltman.

Jadi Contoh Yang Baik
Mendidik anak tak hanya bisa dilakukan melalui perkataan tetapi juga melalui pemberian contoh yang baik. Ketika orang tua membuat pilihan-pilihan yang sehat dalam mengatur pola hidup, maka anak akan ikut terpengaruh untuk melakukan hal yang sama. Karena perilaku orang tua memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap anak dibandingkan perkataan.

Sebagai contoh, jika dihadapkan dengan pilihan ayam panggang dan ayam goreng, orang tua bisa memilih ayam panggang yang lebih sehat. Orang tua juga bisa membiasakan diri untuk membatasi makanan atau bahan makanan berkalori dan bergula tinggi.

Sumber:

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA