Thursday, 16 Safar 1443 / 23 September 2021

Thursday, 16 Safar 1443 / 23 September 2021

Jakarta Rawan Beredar Daging Oplosan

Selasa 20 Jun 2017 21:34 WIB

Rep: Muhyiddin/ Red: Agus Yulianto

Daging babi oplosan (ilustrasi)

Daging babi oplosan (ilustrasi)

Foto: Republika/Rakhmawaty La'lang

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetik (LPPOM) MUI, Lukmanul Hakim megungkapkan, Jakarta menjadi tempat paling rawan beredarnya daging oplosan babi atau celeng, khususnya menjelang lebaran. Pasalnya, Jakarta menjadi tempat masuknya daging dari daerah Sumatera ke tanah Jawa. 

"Daerah yang sering terjadinya oplosan sebetulmya yang paling rawan adalah Jakarta. Jakarta dan Jawa Barat," ujarnya saat dihubungi Republika.co.id di Jakarta, Selasa (20/6). 

Lukman menuturkan, daging oplosasan dengan barang haram tersebut banyaka terjadi lantaran di Jakarta menjadi pintu masuk daripada para pengedar.  "Karena kan datang daging oplosan dari daerah Sumatera, masuk ke Jawa. Masuk di Jakarta dan Jawa Barat," ucapnya.

Menurut dia, pihak terkait sudah melakukan berbagai uoaya untuk mencegah masuknya daging oplosan tersebut. Namun, kata dia, para pelaku selalu saja punya cara-cara tertentu. "Selalu ada saja meskipun dilakukan pengetatan dan lain-lain, tapi mereka juga lebih punya caranya lagi untuk menghindari itu. Ini yang juga kita sulit," kata Lukmanul.

Pihaknya juga telah meminta bantuan terhadap instansi terkait untuk mengatasi peredaran daging oplosan itu, khususnya menjelang Idul Fitri yang tinggal beberapa hari lagi. "Kita juga sudah meminta bantuan terhadap instansi terkait termasuk dinas peternakan dan kepolisian. Nanti kita akan koordinasikan kembali meminta bantuan untuk pengawasan hal2l-hal seperti ini," ujar dia.

Sebelumnya juga diberitakan, Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1438 Hijriah, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengimbau agar masyarakat berhati-hati dalam memilih daging. Pasalnya, dalam beberapa tahun belakangan, setiap menjelang lebaran banyak daging oplosan babi yang beredar di pasaran.

"Karena memang selalu saja ada di dalam kesukaan cita kita ini yang memanfaatkan dengan tidak cara yang baik, misalnya ada daging oplosan. Masih sering terjadi adanya oplosan daging misalnya dengan daging celeng. kan itu juga kita hindari," kata Lukman.


sumber : Center
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA