Bau Mulut Saat Puasa? Cek 6 Hal ini

Rep: Adysha Citra R/ Red: Indira Rezkisari

 Senin 05 Jun 2017 03:39 WIB

Bau mulut Foto: flickr Bau mulut

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bau mulut atau halitosis merupakan salah satu masalah yang cukup sering dikeluhkan oleh orang yang berpuasa. Selain menyebabkan rasa tak nyaman, aroma tak sedap yang keluar dari mulut juga dapat menurunkan rasa percaya diri selama beraktivitas di bulan suci Ramadhan.

Pada dasarnya, penyebab utama terjadinya halitosis ialah karena bakteri yang menumpuk dan berlebih di dalam mulut. Penumpukan bakteri ini dipicu oleh berbagai masalah dari dalam mulut (intraoral).

"90 persen (kasus halitosis) karena sesuatu dari dalam mulut atau intraoral," terang dokter gigi dari Bamed Dental Care Felicia Melati dalam diskusi kesehatan bersama Bamed Health Care di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Masalah intraoral ini meliputi keberihan mulut yang buruk, karies, karang gigi, tongue coating, gigi palsu hingga tambalan gigi yang buruk. Sedangkan 10 persen kasus halitosis lainnya disebabkan oleh berbagai faktor di luar mulut mulai dari penyakit gastroinstestinal, infeksi saluran respiratori, tonsilitis hingga penyakit sistemik.

Upaya utama dalam mengatasi masalah halitosis ialah dengan menjaga kebersihan mulut dan gigi. Akan tetapi, ada beberapa tindakan lain yang juga perlu disesuaikan dengan penyebab kasus halitosis pada tiap individu. Berikut ini ialah solusi mengatasi halitosis sesuai penyebabnya masing-masing menurut Felicia dan dokter gigi lainnya dari Bamed Dental Care, Ayu Monika.

Sisa Makanan Menumpuk
Kebersihan mulut yang tak terjaga dapat menyebabkan sisa makanan menumpuk di dalam mulut. Sisa makanan yang bertumpuk di dalam mulut merupakan kondisi ideal bagi bakteri untuk berkembang. Cara untuk mengatasi halitosis dalam kondisi ini ialah dengan memperbaiki dan mengoptimalkan upaya membersihkan mulut.

Karies dan Karang Gigi
Karies merupakan 'sarang' bagi bakteri dalam mulut untuk berkembang. Semakin besar lubang yang terjadi akibat karies, semakin banyak pula makanan yang mungkin menumpuk di area tersebut. Akibatnya bakteri akan semakin bertambah di area karies gigi.

Hal yang sama juga terjadi pada karang gigi. Karang gigi dapat memicu terjadinya halitosis karena ada banyak bakteri yang berkumpul di karang gigi.

Selain menjaga kebersihan mulut, halitosis yang dipicu oleh karies mungkin membutuhkan upaya seperti penambalan atau perawatan saraf pada gigi berlubang. Sedangkan pada kasus halitosis akibat karang gigi, teknik scaling perlu dilakukan selain mejaga kebersihan mulut.

Tongue Coating
Saat membersihkan mulut, orang seringkali hanya berfokus pada kebersihan gigi dan melupakan lidah. Padahal, permukaan lidah yang tak rata berpotensi menyimpan sisa-sisa makanan yang dapat memicu berkembangnya bakteri yang berlebih dalam mulut. Untuk mencegahnya, lidah pun harus rutin dibersihkan setelah menyikat gigi. Lidah bisa dibersihkan dengan alat pembersih lidah khusus maupun pembersih lidah yang umum terdapat di bagian belakang sikat gigi.

"Sikat gigi tidak cukup, perlu juga membersihkan lidah," kata Felicia.

Gigi Palsu dan Impaksi Makanan
Penggunaan gigi palsu dapat memicu terjadinya halitosis jika kebersihan gigi palsu tak terjaga. Untuk mencegah halitosis, gigi palsu sebaiknya dilepas menjelang tidur dan dibersihkan hingga menyeluruh agar tidak ada sisa makanan yang menempel. Simpan gigi palsu di dalam air setelah dibersihkan.

"(Kalau tidak ada pembersih gigi palsu khusus) Bisa dbersihkan dengan air biasa, yang penting dibersihkan sampai tidak ada sisa makanan yang menempel," tambah Ayu.

Impaksi makanan juga dapat menyebabkan terjadinya halitosis. Felicia mengatakan impaksi makanan umumnya ditemukan pada pasien halitosis dengan susunan gigi yang kurang baik ataupun yang mengenakan bracket gigi. Dalam kondisi ini, kebersihan gigi harus dijaga dengan baik.

Tambalan Buruk
Kondisi tambalan yang buruk juga dapat memicu terjadinya halitosis. Selain menjaga kebersihan mulut dengan baik, penanganan halitosis akibat tambalan bulur juga perlu disertai dengan perbaikan tambalan gigi.

Penyakit Sistemik
Penyakit sistemik merupakan salah satu pemicu halitosis dari luar mulut. Salah satu contoh dari penyakit sistemik ialah diabetes mellitus. Penderita diabetes mellitus umumnya mengeluarkan bau mulut yang khas.

Meski disebabkan oleh faktor di luar mulut, halitosis pada penderita penyakit sistemik perlu diatasi dengan menjaga kebersihan mulut yang baik melalui sikat gigi dan lidah. Upaya lain yang perlu dilakukan ialah mengontrol penyakit sehingga halitosis dapat berkurang.

"Dengan diabetes yang terkontrol, otomatis gejala seperti halitosis juga bisa berkurang," ungkap Ayu.



BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X