Thursday, 20 Rajab 1442 / 04 March 2021

Thursday, 20 Rajab 1442 / 04 March 2021

Jerman: Tidak Ada yang Gratis di Brexit

Ahad 30 Apr 2017 07:34 WIB

Red: Bilal Ramadhan

Perwakilan tetap Inggris untuk Uni Eropa Tim Barrow menyerahkan surat resmi Brexit dari PM Inggris Theresia May kepada Donald Tusk Presiden Uni Eropa.

Perwakilan tetap Inggris untuk Uni Eropa Tim Barrow menyerahkan surat resmi Brexit dari PM Inggris Theresia May kepada Donald Tusk Presiden Uni Eropa.

Foto: Yves Herman/Pool Photo via AP

REPUBLIKA.CO.ID, BERLIN -- Inggris harus mengerti bahwa London tidak akan memiliki kelebihan daripada 27 sejawatnya di Uni Eropa begitu perundingan mengenai pengeluaran negara itu (Brexit) dari kelompok tersebut selesai, kata Menteri Keuangan Jerman Wolfgang Schaeuble dalam sambutannya, Sabtu (29/4).

"Tidak ada makan siang gratis," kata Schaeuble kepada Funke Media Group, menggunakan ungkapan bahasa Inggris, "Orang Inggris pasti tahu itu."

Kanselir Angela Merkel pada minggu ini memperingatkan warga Inggris tidak menipu diri bahwa mereka akan terus menikmati hak Uni Eropa setelah Brexit dan bersikeras bahwa kelompok tersebut hanya akan menyepakati masa depan hubungan dengan London setelah mereka memutuskan kesepakatan keluar.

Perdana Menteri Inggris Theresa May mengatakan ucapan Merkel menggarisbawahi betapa sulit perundingan Brexit. Schaeuble menambahkan, "Kami tidak ingin melemahkan Inggris, tapi kami juga tidak ingin negara Eropa yang lain melemah. Inggris seharusnya tidak mendapatkan keuntungan setelah keluar, yang tidak dimiliki negara lain."

Sebelumnya, Perdana Menteri Inggris Theresa May menyarankan pergerakan bebas orang antara Inggris dan Uni Eropa diperpanjang selama tahap penerapan setelah Inggris meninggalkan kelompok itu, kata BBC.

Media itu mengatakan bahwa May menyampaikan hal tersebut kepada wartawan saat berkunjung ke Arab Saudi. Ia mengatakan bahwa tahap pelaksanaan akan memberi pelaku usaha dan pemerintah "waktu" untuk menyesuaikan diri dengan setiap pembatasan baru, yang disepakati, sebagai bagian dari kesepakatan Brexit atau pengeluaran Inggris dari Uni Eropa.

Dengan mengutip percakapan sama dengan wartawan, Financial Times melaporkan bahwa May menyarankan Inggris tidak akan menyelesaikan kesepakatan perdagangan baru dengan Uni Eropa hingga setelah Brexit selesai pada 2019.

Pada pekan lalu, Presiden Dewan Eropa Donald Tusk mengumumkan Uni Eropa akan mengeluarkan pedoman soal perundingan pemisahan Inggris dari Uni Eropa. Dengan menggarisbawahi bahwa "Sebagian besar masyarakat Eropa, termasuk hampir setengah pemilih Inggris berharap kita tetap bersama, tidak terpisah", Tusk mengatakan, "Tidak ada alasan untuk berpura-pura bahwa ini hari menyenangkan, bukan untuk Brussel, bukan untuk London."

Namun, ia bersikeras bahwa "Brexit telah membuat kita, masyarakat 27 (negara), memiliki tekad yang lebih kuat dan lebih menyatu dibandingkan sebelumnya". Tusk menggambarkan perundingan Brexit yang akan segera berlangsung sebagai 'pengendalian kerusakan'."

Ia mengatakan, tujuan Uni Eropa adalah mengurangi kerugian terhadap warga negara, pengusaha dan negara anggota Uni Eropa. Bersamaan dengan pernyataan Tusk kepada media massa, Dewan Eropa mengeluarkan pernyataan yang menyayangkan surat pemberitahuan dari Inggris bahwa negara itu memisahkan diri dari Uni Eropa.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA