Monday, 30 Safar 1444 / 26 September 2022

Kunci Penguasaan Wirausaha Lewat Inovasi dan Teknologi

Senin 24 Apr 2017 18:56 WIB

Red: Winda Destiana Putri

Wirausaha/ilustrasi

Wirausaha/ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Pemerintah telah menargetkan tahun depan jumlah wirausaha dibandingkan jumlah penduduk mencapai 4 persen, dari sekarang 3,1 persen. Rasio jumlah wirausaha di Indonesia masih di bawah negara tetangga.

Singapura telah mencapai 7 persen, Malaysia 5 persen, dan Thailand 4 persen. Karena itu, butuh penguatan kultur kewirausahaan di tengah masyarakat, agar kewirausahaan kian tumbuh.

Agar kewirausahaan tumbuh, CEO CT Corp Chairul Tanjung, mengajak Himpunan Pengusaha Alumni (HIPA) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), tingkatkan inovasi dan entrepreneurship. "Saya mengajak HIPA ITS untuk meningkatkan inovasi, kreativitas dan enterpreneurship di era industri 4.0. Karena kedepan, ilmu pengetahuan dan teknologi adalah kunci penguasaan ekonomi," ujarnya, di Jakarta, Senin (24/4).

Chairul Tanjung mengatakan, persaingan begitu ketat. Agar mampu memenangkan persaingan ke depan, pengusaha membutuhkan inovasi, kreativitas, dan entrepreneurship.

Perekonomian yang selama ini yang hanya mengandalkan berbasis efisiensi dan produktivitas, tidaklah cukup untuk memenangkan persaingan. Tetapi kedepan  dengan dukungan sumber daya manusia yang unggul, saatnya  perekonomian berbasis inovasi, kreativitas dan entrepreneurship.

Mantan Menteri Koordinator (Menko) bidang Ekonomi di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, itu, mengingatkan agar jangan sampai ada dikotomi antara teknologi dan ekonomi seperti waktu dulu. Hal itu sebagai upaya untuk mentransformasikan bangsa dan ekonomi kita ke arah yang lebih baik, tidak bisa tanpa sinergi dari kedua kelompok itu, baik ekonomi maupun teknologi. "Kedepannya, lanjut Chairul, kita harus terus berupaya dan bekerja keras untuk seiring sejalan memajukan bangsa menuju Revolusi industri keempat," ujarnya.

Chairul  mengatakan, di lima tahun lalu,  kita tidak pernah menyangka ada sebuah perusahaan taksi terbesar dunia dan tidak mempunyai armada, namun Uber mengusai market share terbesar dunia. Kita tidak menyangka perusahaan terbesar kita, yang dulu bila masuk ke suatu daerah di demo, sekarang Blue bird malah ikut mendemo. Kita tidak menyangka perusahaan ritel terbesar dunia namanya Amazoin dan Alibaba, tidak punya toko tapi kini menguasai dunia.

"Jadi kita harus melihat pentingnya inovasi. Harus juga memahami demografi, bikin  produk yang tidak sesuai pasar maka lewat.  Jadi kini sudah eranya terjadi sebuah pergeseran pola pikir, pola tindak dari kehidupan, karena semuanya   berbasis internet. Ada sharing ekonomi," ujarnya.

Sementara Ketua Umum Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel),  Kristiono, menambahkan pentingnya belajar kewirausahaan dari sosok pengusaha hebat. "Kegiatan sharing ini akan mendorong calon pengusaha dari HIPA, untuk  memulai usaha menjadi lebih bersemangat untuk berwirausaha."

Kristiono menjelaskan, keberadaan pengusaha sangat penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan pemerataan kesejahteraan sebuah negara. "Makin besar jumlah pengusaha, maka peluang negara tersebut makin maju makin besar," tuturnya.

Karena itu, kata Kristiono, butuh penguatan kultur kewirausahaan di tengah masyarakat. Kultur kewirausahaan yang kuat akan membantu muncul wirausaha yang tangguh. "Kehadiran HIPA antara lain adalah ingin memperkuat kultur kewirausahaan tersebut," tuturnya.

Menurutnya, masyarakat Indonesia kebanyakan masih berkultur konservatif dalam konteks kewirausahaan. “Kultur ini antara lain seperti takut gagal jika berwirausaha,” ujarnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA