Wednesday, 6 Jumadil Awwal 1444 / 30 November 2022

Awasi Munculnya Radikalisme Sekuler

Ahad 02 Apr 2017 10:53 WIB

Red: Ilham

Radikalisme(ilustrasi)

Radikalisme(ilustrasi)

Foto: punkway.net

Oleh: Djoko Edhi Abdurrahman*

Rais Aam PBNU KH Ma'ruf Amin di Republika menyatakan radikalisme agama dan radikalisme sekuler sama-sama ancaman serius bagi Pancasila. Yang dimaksud ialah Pancasila versi 18 Agustus 1945 yang dimuat Preambule UUD 45 asli. Pancasila yang absah.

Artinya, Pancasila versi 1 Juni 1945 yang belakangan dibuat Keppresnya oleh Presiden Jokowi, tidak absah menurut hukum. Juga bukan Pancasila 22 Juni 1945 versi Muhammad Natsir yang disebut Piagam Jakarta. Keduanya sama-sama tidak absah menurut hukum. Yaitu, karena hukumnya baru dibuat setelah tanggal 17 Agustus 1945.

Cukup terang yang dimaksud Ma'ruf Amin tidak setuju pidato Presiden Jokowi agar agama dipisah dengan politik. Artinya, Presiden Jokowi (dinilai) memprovokasi munculnya radikalisme sekuler.

Diadu saja dua radikal itu seperti (memperlakukan) perkelahian PKI versus Masyumi yang memunculkan konsep Nasakom, berangkat dari sekularisme Turki, diskursus antara Sukarno dan Mohammad Natsir. Sejauh ini, radikalisme agama sudah dibahas, subtansinya Pancasila 22 Juni, arahnya ke  Republik Islam. Sedang radikalisme sekular adalah Pancasila 1 Juni, arahnya ke Republik Sosialis.

Sewaktu Orde Baru, gerakan Pancasila 1 Juni itu yang sangat diwaspadai oleh rezim Soeharto, khususnya terhadap komunisme Marx dan Lenin. Tapi TAP MPR tidak menyebut Hegelian, guru Mao, dan atau Kiri Baru.

Terkini state capitalism, yang ini boleh, diversifikasi dan mutasinya banyak, misalnya OBOR Cina yang muncul sebagai negara adidaya baru. 

Entah bagaimana Indonesia mau mengelola dua ekstrem itu. Dahulu, hal itu urusannya ABRI, lengkap dengan kontrol pikiran radikalnya. Instrumen hukumnya, dibuat UU Subversif yang mampu menindak perbuatan sekaligus pikiran.

Setelah reformasi, pekerjaan ABRI tadi diserahkan kepada kepolisian. Kemudian dibentuk badan khusus bernama Badan Nasional Penanggulan Terorisme (BNPT). Dilengkapi Detasemen Khusus 88 (Densus 88). Tapi fungsi Paban (perwira bantuan), BP7, skrining Laksus, etc, Densus tak punya.

Musuh utama Densus ialah kaum kanan yang beroleh legacy nama dari Presiden Bush: terorisme! Pasti Islam. Sebab, (merasa) yang diteror selalu Kristen Barat. Dan pentolan terorisnya selalu bernama Abu.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA