Friday, 8 Zulqaidah 1442 / 18 June 2021

Friday, 8 Zulqaidah 1442 / 18 June 2021

Amerika Serikat Makin Minati Sukuk Pemerintah Indonesia

Jumat 31 Mar 2017 04:31 WIB

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Budi Raharjo

Penjualan sukuk (ilustrasi).

Penjualan sukuk (ilustrasi).

Foto: Republika/Wihdan Hidayat

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Penerbitan sukuk global pemerintah sebesar 3 miliar dolar AS menarik minat berbagai kelompok investor domestik dan internasional. Pada penerbitan sukuk kali ini, investor Amerika Serikat mengalami peningkatan dari 2 persen pada tenor 5 tahun sukuk global 2016 menjadi 21 persen pada tenor yang sama pada sukuk kali ini.

Lebih rinci disebutkan, berdasarkan data Kementerian Keuangan, pada tahun lalu investor AS untuk tenor 10 tahun yakni hanya sebesar 15 persen. Sedangkan tertinggi merupakan investor asal Timur Tengah 42 persen untuk tenor 5 tahun dan 28 persen untuk tenor 10 tahun.

Komposisi investor tersebut bergeser pada penerbitan sukuk global kali ini. Adapun distribusi investor berdasarkan wilayah untuk sukuk global tenor 5 tahun adalah 27 persen investor Islamic (termasuk Timur Tengah dan Malaysia), investor Amerika Serikat naik drastis menjadi 21 persen. Kemudian 28 persen investor wilayah Asia (selain Indonesia dan Malaysia), 14 persen investor Eropa, dan 10 persen investor Indonesia.

Sedangkan untuk sukuk global tenor 10 tahun untuk investor Islamic (termasuk Timur Tengah dan Malaysia) naik sedikit menjadi 29 persen. Kemudian sebanyak 29 persen investor Amerika Serikat, 23 persen investor wilayah Asia (selain Indonesia dan Malaysia), 10 persen investor Indonesia, dan 9 persen investor Eropa.

Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, Robert Pakpahan menjelaskan, penurunan yang cukup drastis untuk tenor jangka pendek pada wilayah Timur Tengah dan Malaysia karena terpengaruh harga minyak yang fluktuatif. Dana yang tersedia untuk berinvestasi tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya. Khusus untuk investor Malaysia, umumnya lebih menyukai tenor pendek.

"Sementara di AS, investor yang awalnya kurang melirik sukuk, makin dapat diyakinkan kalau sukuk merupakan instrumen yang dari segi kualitas sama dengan konvensional," ujar Robert dalam konferensi pers Sukuk Global 2017 di Kementerian Keuangan, Kamis (30/3).

Umumnya investor asal negeri Paman Sam ini lebih menyukai sukuk bertenor jangka panjang, terbukti dengan komposisi investor pada tenor 10 tahun yang sebesar 29 persen. Sukuk Global ini diterbitkan pada harga par dengan imbalan sebesar 3,40 persen untuk tenor 5 tahun dan 4,15 persen untuk tenor 10 tahun, serta telah memperoleh peringkat Baa3 dari Moody's dan BBBdari Fitch.

"Ada rating-nya juga, November 2016 masuk ke emerging market index. Investor global di negara-negara maju dapat memantau pergerakan sukuk kita di sana, dan mereka sekarang paham (kualitasnya). Hadirnya kita secara rutin di pasar sukuk juga memberikan kredit yang cukup bagus, sehingga mereka semakin mau membeli," jelas Robert.

Direktur Pembiayaan Syariah Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, Suminto menambahkan, untuk penerbitan sukuk kali ini pemerintah merasa puas dengan nilai pricing dan imbalan yang ditentukan. "Karena dengan imbalan 3,40 persen dan 4,15 persen itu harga yang sangat bagus di pasar sekunder," kata Suminto.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA