Komisi XI Dorong Optimalisasi Pengembangan Energi Panas Bumi

Selasa , 28 Mar 2017, 16:19 WIB
kunjungan Komisi XI ke Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP)  Lahendong, Tomohon, Manado, Jumat (24/3).
Foto: dpr
kunjungan Komisi XI ke Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lahendong, Tomohon, Manado, Jumat (24/3).

REPUBLIKA.CO.ID, MANADO -- Anggota Komisi XI DPR RI Jon Erizal mendorong pengembangan energi panas bumi. Indonesia memiliki potensi energi panas bumi atau gheothermal sangat besar, yaitu 29 ribu megawatt (MW). Dari 29 ribu MV, pembangkit tenaga listrik yang menggunakan sumber panas bumi di Indonesia baru sekitar 1.545 MW, atau sekitar 5 persen yang baru digunakan.

 

“Kita rasa itu perlu di dorong, karena itu tadi kita tanyakan kepada PGE seperti apa pengembangan energi di Indonesia,” uujar dia, di sela kunjungan Komisi XI ke Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP)  Lahendong, Tomohon, Manado, Jumat (24/3).

Politikus dari F-PAN itu melanjutkan, sumber energi panas bumi di negeri kita sangat banyak, namun modal untuk yang diperlukan untuk pengembangan cukup besar. “Untuk membangun 2 x 30 mega ini kira-kira habis 280 juta dolar. Jadi, kira-kira per mega 5 juta lebih, itu bisa 4-5 kali dibandingkan batubara,” ujar Jon.

 

Sisi lain, lanjutnya, pemanfaatan energi panas bumi harus optimal begitupun dengan komposisinya karena berkaitan dengan strategi pengembangan energi di Indonesia.

 

“Jadi kombinasinya kita harapkan bisa betul-betul tepat sesuai dengan kebutuhan  masyarakat Indonesia, kita tidak bisa mengedepankan hanya emisi saja sementara target 35 ribu tidak tercapai,” ujar dia.

Menurutnya, penggunaan sumber energi batubara memang murah tetapi emisi gas buangnya cukup tinggi sementara ada yang emisinya rendah namun pengelolaannya mahal. Untuk itu, lanjutnya, harus ada kombinasi penggunaan SDA yang ideal tanpa harus membunuh sumber energi yang lain.

 

“Pemikiran saya ada kombinasi dari semua sumber energi yang masuk untuk mendorong kebutuhan listrik masyarakat Indonesia, tetapi keluarnya dengan satu harga. Ini juga yang akan kita godok bersama pemerintah,” katanya.

 

Pada tahun 2016, Pertamina Gheotermal Energy (PGE) telah menyelesaikan 3 proyek PLT. Dari ketiga proyek tersebut, 2 unit berada di AG Lahendong yaitu proyek PLTP LHD Unit 5 dan LHD Unit 6. PLTP AG Lahendong sendiri memberikan kontribusi pemenuhan kebutuhan listrik sebesar 30 persen di sistem interkoneksi 150/70 KV.  PLTP ini berkapaistas 2x20 Megawatt (MW).