Monday, 4 Jumadil Awwal 1444 / 28 November 2022

Buka Jendela Kamar Bisa Cegah Diabetes? Ini Penjelasannya

Kamis 23 Mar 2017 08:29 WIB

Rep: Adysha Citra R/ Red: Indira Rezkisari

Pemeriksaan kadar diabetes

Pemeriksaan kadar diabetes

Foto: pixabay

REPUBLIKA.CO.ID, Mengatur pola makan dan olahraga merupakan upaya-upaya pencegahan diabetes Tipe 2 yang sering disarankan oleh praktisi kesehatan. Berbeda dengan praktisi kesehatan pada umumnya, profesor endokrinologi asal Oxford University memiliki saran tambahan unik untuk mencegah diabetes tipe 2, yaitu membuka jendela kamar.

Profesor endokrinologi dari Oxford University, Ashley Grossman, mengungkapkan pendapat tersebut setelah peneliti Belanda menemukan bahwa suhu udara berkaitan dengan diabetes. Menurut penelitian yang dilaukan oleh Maastricht University Medical Centre, peningkatan suhu lingkungan 1 derajat Celcius dapat menyebabkan munculnya 100 ribu kasus diabetes baru di Amerika Serikat setiap tahun.

Peningkatan suhu yang lebih hangat membuat tubuh membakar lemak cokelat lebih sedikit. Lemak cokelat merupakan lemak yang dapat diubah tubuh menjadi energi dan panas. Kondisi ini dapat mempengaruhi sensitivitas insulin dan penambahan berat badan.

Sebaliknya, menurunkan suhu udara menjadi 15-17 derajat Celcius selama beberapa jam per hari dapat menjauhi risiko kenaikan berat badan. Alasannya, suhu udara yang lebih dingin akan mendorong tubuh untuk lebih menstimulasi lemak cokelat. Menurut tim peneliti, hanya dengan berada di lingkungan yang lebih dingin laju metabolisme tubuh dapat meningkat.

Penelitian tersebut, terang Grossman, menunjukkan bahwa menjaga suhu tetap sejuk dapat menurunkan diabetes dan obesitas. Salah satu cara paling sederhana untuk memungkinkan hal tersebut ialah dengan membuka jendela kamar di malam hari. Udara yang lebih dingin, meski hanya lebih rendah 2 derajat, dinilai Grossman efektif untuk mendinginkan tubuh dan memberi manfaat baik bagi kesehatan.

"Ada bukti yang cukup meyakinkan bahwa mendinginkan tubuh, meski hanya dengan beberapa derajat (lebih rendah), dapat memperbaiki atau menurunkan diabetes," terang Grossman seperti dilansir Telegraph.

Grossman melanjutkan, tingal di lingkungan yang sejuk juga dapat memberi manfaat dalam meningkatkan sensitivitas insulin dan menjauhkan risiko diabetes. Di samping itu, Grossman juga mengatakan tidur yang cukup dapat menjauhkan risiko obesitas dan diabetes.

"Mungkin kita semua perlu menjalani tidur malam yang baik di dalam kamar yang sejuk dengan jendela yang terbuka untuk angin malam," kata Grossman.

Di sisi lain, Profesor Sir David Spiegelhalter dari University if Cambridge mengatakan suhu mungkin berperan dalam timbulnya kasus diabetes tipe 2, namun tidak besar. Alasannya, penelitian tersebut mengindikasikan bahwa peningkatan suhu udara rata-rata 2 derajat Celcius 'hanya' berkaitan dengan 0,7 persen insidensi diabetes.

"Terkait hal tersebut, saya pikir ini (suhu udara dalam kaitannya dengan diabetes) tidak akan menjadi kekhawatiran terbesar," kata Spiegelhalter.

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA