Friday, 8 Jumadil Awwal 1444 / 02 December 2022

Shamsi Ali Jelaskan Alasan Kebencian Terhadap Kelompok Nonkulit Putih

Ahad 12 Mar 2017 10:51 WIB

Rep: Fuji EP/ Red: Indira Rezkisari

Imam Masjid Al-Hikmah New York Shamsi Ali.

Imam Masjid Al-Hikmah New York Shamsi Ali.

Foto: Darmawan/Republika

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Imam Besar Masjid New York, Imam Shamsi Ali, mengatakan kelompok radikal teroris kulit putih di dunia barat bukan sesuatu yang baru. Perjalanan Eropa memang sudah digeluti oleh tendensi perasaan lebih atau superioritas.

"Perasaan di atas manusia lainnya berdasar ras, etnik, suku dan warna kulit begitu dalam sehingga ada kecenderungan untuk menjadikan orang berkulit warna (people of color) tetap berada di posisi tertindas dan ditindas," kata Imam Shamsi kepada Republika.co.id melalui keterangan tertulisnya.

Ia menerangkan, akan tetapi karena world view yang semakin amburadul, tendensi materialistik dan foya-foya (hedonistik) semakin menggeluti. Kehidupan tidak lagi dikawal oleh pondasi moral. Orang-orang Barat kulit putih semakin menjatuhkan diri ke dalam lubang kehancurannya sendiri.

Salah satunya, mereka semakin tidak peduli dengan kehidupan keluarga dan memiliki anak seolah beban hidup yang harus dihindari. Akibatnya populasi mereka menjadi terminimalisir dan populasi non-kulit putih semakin bertambah.

Apalagi didorong oleh membesarnya pendatang dari negara-negara konflik yang juga tidak lepas dari keterlibatan negara-negara barat sendiri. "Pengungsi dan imigran dari Afrika, Timur Tengah dan Asia semakin bertambah," ujarnya.

Menurut Imam Shamsi yang juga Presiden Nusantara Foundation, pada akhirnya memang terjadi pergeseran demografi dalam masyarakat Barat. Amerika tentunya tidak terlepas dari fenomena tersebut. Sehingga menimbulkan kekhawatiran kulit putih, bahkan ketakutan, sekaligus kebencian kepada warga non-kulit putih.

"Salah satu bentuk kebencian itu adalah tumbuhnya kelompok radikal teroris warga kulit putih yang lebih dikenal dengan white supremacy," jelasnya.

Dikatakan dia, di Amerika Serikat kelompok white supremacy telah lama meneror kelompok minoritas, yakni warga non-kulit putih. Mereka dalam melakukan gerakannya tidak canggung menggunakan cara-cara teror dan kekerasan.

Dalam beberapa dekade terakhir pergerakan white supremacy ini sempat tertekan, baik secara legal maupun secara moral. Secara legal karena yang memimpin Amerika adalah mereka yang sadar hukum dan konstitusi. Maka kelompok yang melakukan kekerasan, termasuk white supremacy akan menghadapi hukum yang tegas.

Ia menjelaskan, secara moral karena dalam dekade terakhir tumbuh kesadaran pluralitas yang sangat tinggi di kawasan masyarakat Amerika, khususnya di perkotaan. Amerika mampu membentuk kesadaran kolektif tentang pluralistic society yang setara di mata hukum.

"Masyarakat warna kemudian mendapat tempat dalam tatanan kehidupan publik. Afro Amerika, Hispanik, Asia, dan semua dengan ragam agama dan kultur menemukan tempatnya dalam kehidupan publik Amerika," katanya.

Kemudian, minoritas menjadi pejabat, kongress, wali kota, gubernur dan lain-lain. Puncak dari semua itu adalah ketika Amerika mencatat sejarah dengan memilih seorang Afro Amerika sebagai presidennya.

Namun, perubahan tatanan kehidupan publik di dunia Barat kemudian dari hari ke hari semakin memperbesar kemarahan dan dendam warga kulit putih. Maka di mana-mana terjadi reaksi negatif terhadap tren pertumbuhan imigrasi baru. Para politisi ekstrim di berbagai negara, termasuk Eropa, mempergunakan momentum tersebut. Maka terjadilah Brexit di Inggris.

Dikatakan Imam Shamsi, di Amerika Serikat sendiri terjadi hal yang sama, bahkan lebih buruk. Politisi-politisi ekstrim Republik mempergunakan sentimen kemarahan warga putih untuk membalas dendam kepada partai Demokrat. Khususnya kepada Presiden Barack Obama.

"Momentum ini pula yang dipakai oleh sebagian yang sejatinya non politikus tapi memiliki dendam dan kemarahan yang sama (kepada non-kulit putih), seperti Donald Trump," jelasnya.

Ia menerangkan, pendukung Donald Trump adalah mereka yang memang mempunyai ketakutan dengan pergeseran demografis dan marah dengan realita bahwa mereka semakin tersisihkan. Tentu yang paling dominan dalam hal ini adalah mereka yang memang secara sejarah memiliki mentalitas dendam kepada masyarakat berkulit warna. Mereka inilah yang dikenal dengan penganut white supremacy atau supremasi kulit putih.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA