Saturday, 11 Safar 1443 / 18 September 2021

Saturday, 11 Safar 1443 / 18 September 2021

Heboh Raja Salman dan Freeport

Senin 06 Mar 2017 15:00 WIB

Red: Agus Yulianto

Iman Sugema

Iman Sugema

Foto: Republika/Agung Supriyanto

REPUBLIKA.CO.ID,  Oleh: Iman Sugema *)

Tentu Anda akan setuju kalau saya mengatakan kehebohan yang dibuat oleh kedatangan Raja Salman dan bos Freeport adalah berbeda. Yang satu bikin kita terpana berdecak kagum, sedangkan yang lainnya bikin kita dongkol setengah mati. Yang satunya kita rindukan bagai pungguk merindukan bulan, yang lainnya ingin kita tendang sampai ke bulan. Yang satu datang bagai keluarga yang telah lama hilang, yang lainnya bagai tamu yang tak diundang.

Tapi, tahukah Anda bahwa keduanya datang karena hal yang sama? Keduanya datang dalam keadaan menghadapi kesulitan keuangan. Mereka sama-sama golongan kaya yang lagi cekak. Sesulit-sulitnya orang kaya, tentu tidak sesulit orang miskin. Mereka juga sama-sama berharap kita menjadi dewa penolong. Tapi, kenapa kita memperlakukan keduanya sangat berbeda? Tentu saja harus berbeda karena perlakuannya terhadap kita juga sangatlah berbeda.

Raja Salman beserta rombongannya datang sebagai kerabat yang selama ini baik hati. Banyak memberikan bantuan baik materil maupun moril. Jadi wajar saja, penyambutan yang kita buat juga sangat meriah. Semoga saja kemeriahan tersebut tidak mengaburkan fakta bahwa mereka datang tidak hanya untuk sekedar lawatan kenegaraan plus liburan di Bali. Mereka juga berharap, agar kita dapat meringankan sebagian kesulitan yang sedang mereka hadapi.

Ceritanya begini. Kerajaan Saudi sedang menghadapi masalah keuangan negara yang cukup akut. Kekayaan mereka mendadak hangus gara-gara krisis keuangan global di tahun 2008 yang lalu. Aset keuangan yang mereka pegang kebanyakan dalam bentuk surat berharga dan derivative. Mereka terlalu banyak memegang junk bond yang sekarang tak lagi memiliki nilai sama sekali.

Untungnya, mereka masih memiliki minyak yang disedot tak habis-habis. Walaupun harga minyak tak sebaik sebelum tahun 2008, Saudi masih diuntungkan dengan biaya produksi yang relatif rendah atau tak sampai 10 dolar per barel. Untuk menyehatkan penerimaan negara, pilihan mereka hanya satu yakni genjot terus produksi migas.

Namun, karena Amerika telah berubah dari net-importer menjadi net-exporter di bidang migas, maka Saudi perlu mencari mitra strategis baru untuk menjadi pengganti Amerika. Mereka sangat berharap agar Tiongkok, India, dan Indonesia dapat mengambil alih peran Amerika sebagai Negara tujuan ekspor migas.

Terus bagaimana seharusnya kita bersikap? Kita merupakan salah satu negara yang terus-menerus mengalami peningkatan kebutuhan migas. Tetapi, di lain pihak, juga kita harus tahu bahwa pasar migas dunia sedang kelebihan kapasitas produksi. Dalam situasi kelebihan pasokan, biasanya harga kontrak lebih rendah dibanding harga spot.

Kita menolong Saudi dengan menjamin bahwa kita akan membeli minyak dengan volume tertentu (kontrak volume) untuk jangka panjang, dan di lain pihak, Saudi dapat menolong kita dengan harga di bawah harga spot. Kita bisa saja meminta harga 10 sampai 20 persen di bawah harga spot dalam jangka waktu sepuluh tahun ke depan.

Karena migas sangat dominan dalam bauran energi kita, maka mendapatkan harga yang rendah merupakan satu-satunya cara untuk menjaga agar ekonomi tetap kompetitif. Akan tetapi, secara cepat, kita juga harus mendiversifikasi penggunaan energi ke arah energi hijau dan murah. Salah satun caranya adalah dengan mengikuti strategi yang dilakukan oleh Denmark yaitu membangkitkan listrik dengan biomasa. Harap diingat bahwa potensi energi biomasa yang dimiliki Indonesia merupakan yang terbesar

Di dunia. Jangan sampai karena kita mendapatkan minyak murah, kita lupa untuk mengembangkan energi murah yang ada di depan mata kita sendiri. Semoga kedatangan Raja Salman akan membawa barokah bagi kedua Negara.

Kasus Freeport, tentunya harus juga dilihat dalam konteks memperjuangkan kepentingan nasional. Hanya saja perlakuannya harus jauh berbeda. Perusahaan ini,terlalu terbiasa dimanjakan oleh situasi negara kita yang korup. Sekarang ini, situasinya sudah jauh berbeda. Kita sudah menjadi negara demokrasi dan sedang berjuang habis-habisan melawan korupsi. Karena itu, salah satu kegagalan diplomasi Freeport adalah mereka tidak menyadari bahwa Indonesia sedang mengalami perubahan besar.

Freeport pernah menjadi sumber devisa dan penerimaan negara yang sangat vital. Sekarang, kontribusi mereka amatlah kecil. Keberadaan Freeport di Indonesia bisa dengan mudah digantikan oleh perusahaan lainnya. Di lain pihak, mereka harus tetap mengeruk keuntungan besar dari bumi Indonesia. Kalau tidak, maka mereka akan bangkrut. Mereka menghadapi masalah besar karena investasi di ladang migas di Amerika rugi besar. Satu-satunya jalan supaya selamat adalah dengan mendapatkan keuntungan mudah dari kita.

Dalam situasi seperti ini, sebetulnya, kita berada di atas angin. Sayangnya, Freeport gagal memahami ini dan mereka meminta pengecualian untuk tidak tunduk dan taat terhadap peraturan-perundangan yang berlaku di negeri ini. Kalau dulu, mungkin meminta hal seperti ini, mudah dilakukan dengan cara menekan pemerintah Indonesia melalui politisi korup. Sekarang, pemerintah lebih cerdas mengambil posisi dan politisi tidak lagi gampang bermain.

Kalau Freeport mau aman, taatilah aturan main di negeri ini. Pemerintah sudah mau memberi kelonggaran dengan memberi izin ekspor melalui skema izin usaha pertambangan khusus. Kalau mau lebih dari itu maka sulit untuk kita penuhi. Lagian investor pertambangan yang lain tak keberatan kok. Pemerintah hanya ingin agar setiap aturan dapat ditegakan. Tidak lebih dan tidak kurang. Akhir kata, saya hanya ingin menghimbau kepada para investor, bantulah Indonesia dengan meninggalkan cara-cara lama dalam berbisnis. Kami ingin berubah.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA