Thursday, 1 Syawwal 1442 / 13 May 2021

Thursday, 1 Syawwal 1442 / 13 May 2021

Kemensos Beri Bantuan Korban Banjir Bandang Garut Senilai Rp 3,6 Miliar

Sabtu 04 Mar 2017 17:23 WIB

Rep: Rizky Suryarandika/ Red: Hazliansyah

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa menengok pengungsi banjir bandang Kabupaten Garut, Jawa Barat yang menetap di hunian sementara, Sabtu (4/3).

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa menengok pengungsi banjir bandang Kabupaten Garut, Jawa Barat yang menetap di hunian sementara, Sabtu (4/3).

Foto: Dok: Kemensos

REPUBLIKA.CO.ID, GARUT -- Kementerian Sosial memberi bantuan jaminan hidup (Jadup), santunan ahli waris, dan stimulan bahan bangunan rumah (BBR) kepada korban banjir bandang Kabupaten Garut, Sabtu (4/3). Total dana yang dicairkan senilai Rp 3,66 Miliar  dalam bentuk sejumlah paket bantuan.

Penerima Jadup sebanyak 1.724 jiwa berada di Kecamatan Garut Kota, Cisompet, dan Tarogong Kidul. Para korban banjir bandang berhak atas bantuan jadup sebesar sepuluh ribu rupiah per hari selama 90 hari atau senilai 900 ribu. Sedangkan total Jadup mencapai 1,551 miliar. Selain itu, santunan ahli waris diberikan kepada 14 KK dari Kecamatan Tarogong Kidul masing-masing senilai Rp 15 juta.
Sementara stimulan BBR diberikan kepada 171 KK masing-masing Rp 10 juta. Tak berhenti sampai disitu, Mensos Khofifah Indra Parawansa juga memberikan bantuan sembako dengan total nilai Rp 194,4 juta.

"Saya ikut merasakan apa yang dirasakan bapak-ibu semua. Semoga kejadian seperti ini (banjir bandang-red) tidak berulang kembali," katanya saat memberikan bantuan secara simbolis di Rumah Perlindungan Sosial Tresna Wedha Garut.

Mensos mengatakan, pemberian jadup sesuai Peraturan Menteri Sosial Nomor 04 Tahun 2015 adalah bagi keluarga yang rumahnya rusak berat. Jadup diberikan satu kali dan pencairannya dilakukan setelah masa tanggap darurat selesai. Ia berharap bantuan jaminan hidup yang diberikan mampu membantu menopang kehidupan sehari-hari selama masa pemulihan pascabencana.

"Semoga para korban bisa menata kembali hidupnya," ujarnya.

Khofifah menjelaskan saat ini sebagian besar korban banjir bandang tinggal di hunian sementara (huntara) sampai proses penyiapan hunian tetap (huntap) selesai. Huntap tengah dipersiapkan oleh kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen PU-PR). 

Ia mengingatkan agar para korban mempunyai semangat tinggi untuk segera bangkit dari kejadian duka banjir bandang bulan September 2016 lalu.

“Banjir bandang adalah salah satu ujian dari Tuhan. Jika kita bisa melewati ujian dengan lapang dada, Insya Allah kita akan semakin ditinggikan derajatnya dihadapan Allah," ucapnya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA