Friday, 27 Zulhijjah 1442 / 06 August 2021

Friday, 27 Zulhijjah 1442 / 06 August 2021

Dewi Fortuna: Arab Saudi Ingin Lirik Investasi Damai di Negara Timur

Sabtu 04 Mar 2017 13:42 WIB

Rep: Umi Nur Fadhilah/ Red: Andi Nur Aminah

Suasana kedatangan delegasi awal rombongan Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud di Bandara Halim Perdanakususma, Jakarta, Selasa (28/2).

Suasana kedatangan delegasi awal rombongan Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud di Bandara Halim Perdanakususma, Jakarta, Selasa (28/2).

Foto: Republika/Prayogi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Peneliti Senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dewi Fortuna Anwar menilai kunjungan Arab Saudi merupakan upaya menengok investasi di negara bagian Timur yang damai. "Justru di negara bagian Timur, kita menikmati perdamaian. Yang tak kalah penting, Indonesia dan Asean berperan sebagai promotor aksitektur regional," kata dia dalam sebuah diskusi di Jakarta, Sabtu (4/3).

Dewi menilai, selama ini Arab Saudi memandang sebelah mata ke negara Timur, khususnya dalam hal investasi. Mereka cenderung berorientasi ke negara-negara Barat untuk mengelola keuangannya.

Sehingga, ia menilai, kunjungan rombongan Arab Saudi penting untuk dipandang sebagai keingingan mengubah orientasi berinvestasi. Salah satunya, yakni Arab Saudi ingin melakukan diversifikasi untuk menaikkan harga minyak sesuai visi menuju 2030.

"Negara teluk lainnya, telah berhasil, seperti Dubai, Abu Dabhi, Oman. Arab Saudi agak terlambat, selama ini mereka investasi di sektor real estate (properti)," ujar dia.

Selain itu, Dewi mengatakan, Arab Saudi mulai menyadari dunia Barat tengah mengalami krisis. Sehingga, menurutnya, wajar apabila Arab Saudi ingin melirik investasi di negera Timur yang cenderung damai saja.

"Sangat tak kondusif investasi di dunia Barat, suatu saat bisa dibekukan, ada juga gejolak Islampobia naik, anti imigran, anti globalisasi," jelasnya.

Dewi menegaskan, pertumbuhan ekonomi dan perdamaian merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Ia menggambarkan, percuma apabila perekonomian di suatu negara sangat tinggi, tetapi tidak aman dan suatu saat akan berhenti. 

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA