Monday, 7 Ramadhan 1442 / 19 April 2021

Monday, 7 Ramadhan 1442 / 19 April 2021

Cina Pasang Pelacak Kendaraan di Xinjiang

Selasa 21 Feb 2017 18:17 WIB

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Ani Nursalikah

Kawasan otonomi khusus Xinjiang

Kawasan otonomi khusus Xinjiang

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Otoritas keamanan Cina telah mengimbau penduduk Xinjiang memasang alat pelacak GPS ke kendaraan mereka, Selasa (21/2). Tujuannya demi memudahkan otoritas memantau pergerakan.

Imbauan tersebut dipertegas pekan ini dan kemungkinan berimbas pada ratusan ribu kendaraan. Dalam pernyataan otoritas, perintah instal GPS ini akan membantu memastikan keamanan dan keselamatan sosial.

Selain itu, untuk meningkatkan stabilitas dan harmoni. "Ada ancaman dari teroris internasional, dan mobil telah digunakan untuk transportasi teroris juga mendistribusikan senjata," kata mereka, dilansir Guardian.

Menurut data, antara 20 Februari hingga 30 Juni kendaraan pemerintah dan kendaraan berat seperti buldozer dan truk telah diminta pasang GPS lebih dulu. Sistem navigasi satelit ini adalah Beidou buatan Cina.

Pengendara yang menolak tidak akan diizinkan mengisi bahan bakar. Langkah ini berkembang menargetkan kendaraan privat. Menilik beberapa tahun terakhir ada serangan yang mengenakan kendaraan sipil juga.

Mobil juga dinilai sebagai alat yang bisa menyebabkan teror, seperti kejadian di Nice dan Berlin. Xinjiang merupakan wilayah perbatasan yang sering menjadi tempat terjadinya kericuhan.

Otoritas menyalahkan ekstremis dan separatis Muslim atas serangkaian kekerasan yang meningkat akhir-akhir ini. Namun para pakar mengatakan kekerasan dipicu oleh ketegangan etnis antara migran suku Han Cina dan anggota minoritas Uighur.

Otoritas menggelar parade antiteror massal Kamis kemarin dan melibatkan ribuan pasukan bersenjata berat. Mereka menyambangi tiga kota penting Xinjiang.

Pakar terorisme di Universitas Lanzhou, Yang Shu mengatakan GPS akan meningkatkan kemampuan pemerintah melawan teror. "Area itu luas dan populasi kecil sehingga banyak titik buta yang sulit diawasi pemerintah," kata Yang.

Langkah ini pun lebih murah dibandingkan dengan memasang kamera pengawas di ribuan titik.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA