Selasa, 19 Zulhijjah 1440 / 20 Agustus 2019

Selasa, 19 Zulhijjah 1440 / 20 Agustus 2019

Para Veteran Perang Berjaya di Ajang Paralimpik

Ahad 02 Sep 2012 05:00 WIB

Rep: Rina Tri Handayani/ Red: M Irwan Ariefyanto

Bradley Snyder

Bradley Snyder

Foto: interaksyon.com

REPUBLIKA.CO.ID,Perenang AS Bradley Snyder, Jumat lalu (31/8) berhasil meraih emas pada kategori renang gaya bebas 100 meter di arena Paralimpik 2012 yang dihelat di London. Penghargaan tersebut diraihnya setahun setelah dia kehilangan penglihatan ketika sebuah ledakan mengenai mukanya di Afghanistan.

Pria berumur 28 tahun dengan pangkat terakhir letnan di Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) itu menempati urutan pertama dengan waktu 57.43 detik di dalam air. Dia berhasil mengalahkan Yang Bozun dari Cina yang berada di posisi kedua dan Hendri Herbst Hendri dari Afrika Selatan di tempat ketiga.

Snyder telah pensiun dari tugasnya pada 7 September tahun lalu setelah bom mengenainya. Sebelumnya, seperti ditulis Herald Sun, dia bertugas sebagai penjinak bom hingga sebuah bom rumah meledak dan membutakan matanya.

Snyder menemukan dunia baru yang terbaik untuk atlet tunanetra di 100 meter dan 400 meter renang gaya bebas. Prestasinya di ajang tersebut pun mengundang pujian dari Menteri Pertahanan AS Leon Panneta.

Perenang yang ikut serta dalam tujuh perlombaan di arena paralimpik ini mengatakan bahwa persaingan dalam kompetisi tersebut membawa kepercayaannya kembali. Kemudian, setelah perlombaan, dia mengaku bangga karena bisa mewakili rekan-rekannya yang terluka. Berpartisipasi dalam olimpiade cacat fisik adalah penghormatan baginya. Menurut dia, kesempatan tersebut sungguh istimewa. Dia lantas mengomentari moto dari acara tersebut, 'Inspirasi Sebuah Generasi'. “Saya kira generasiku adalah generasi prajurit yang terluka," katanya..

Dia seolah tidak percaya. Dia merasa belum terlalu lama terbaring di ranjang rumah sakit. Kehilangan penglihatan merupakan sebuah tamparan dalam kehidupannya, apalagi untuk bisa menerima sesuatu yang telah dihilangkan dari bagian tubuh. Snyder mencoba bangkit meski beberapa kemampuannya berkurang. Sementara itu, dia terpaksa keluar dari pertempuran.

Paralimpik membuatnya berharap agar kehadiran para veteran yang terluka diakui. Dia mewakili kehadiran orang-orang yang dalam situasi tidak normal dan berharap dapat memberikan beberapa inspirasi bahwa orang cacat juga bisa melakukan sesuatu. "Ini bukan sekadar olahraga, tapi keluar dari kamar, kembali pada kehidupan dan melewati rintangan yang dihadapi," tuturnya.

Perang yang menumpahkan darah di Irak dan Afghanistan beberapa tahun terakhir menghadirkan sejumlah tentara AS yang terluka dan cacat fisik. Di antara sejumlah veteran tersebut ikut andil dalam Paralimpik London 2012 ini. Dalam tim AS, dari total kontingen yang berjumlah 227 orang, lebih dari 20 atlet di antaranya merupakan veteran perang Irak dan Afghanistan.

Perwira tertinggi Militer AS, Jenderal Martin Dempsey, yang menjabat sebagai ketua Gabungan Kepala Staf AS adalah ketua delegasi Presiden Barack Obama untuk kontingen paralimpik tersebut. Melalui program, seperti Wounded Warrior Project dan Britain's Battle Back, veteran perang yang terluka dan catat, dibangkitkan kembali semangatnya melalui pelatihan-pelatihan olahraga.

Penasihat Obama untuk kebijakan bagi orang cacat, Kareem Dale, mengatakan olahraga merupakan sebuah cara jitu yang bisa digunakan untuk mengembalikan orang-orang cacat dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Selain itu, lewat olahraga, mereka juga bisa kembali merasa berguna dan terus produktif, serta membangun semangat tim yang mereka pelajari di militer.

Pemandangan serupa juga terlihat di tim Inggris dengan hadirnya atlet bersepeda, Jon-Allen Butterworth. Dia merupakan mantan anggota Angkatan Udara Inggris, yang bertugas sebagai teknisi persenjataan. Butterworth kehilangan lengannya dalam serangan roket di Basra, Irak selatan, 2007.

Atlet berusia 26 tahun ini pada Jumat (31/8) meraih medali perak dalam time trial satu kilometer. Sebelumnya, dia menghabiskan waktu setahun untuk rehabilitasi fisik sebelum dikenalkan ke paralimpik. Menyadari tidak bisa kembali pada pekerjaannya sebagai tentara, dia pun memutuskan untuk terjun ke dunia olahraga. Di dunia olahraga, dia melangkah dan terus berlatih untuk bersaing pada level internasional.

Sebelumnya, menurut catatan telegraph.co.uk, dia meraih emas pada dua kejuaraan dunia terakhir, termasuk di Los Angeles 2012. Dia membuat rekor dunia baru 1.07.459 untuk kategori time trial C5 di Kejuaraan Track Nasional. Meraih emas Kejuaraan Dunia tahun 2011. Pada 2010, ia mematahkan rekor dunia untuk flying 200 meter dan mendapatkan emas di kejuaraan track tingkat nasional.

Lain lagi dengan cerita bekas tentara Inggris, Derek Derenalagi (32 tahun). Dia kehilangan kakinya saat pasukannya berkeliling terkena ranjau di Afghanistan pada 2007. Meski begitu, kegigihannya dalam berlatih telah mengantarkannya pada final cabang lempar cakram untuk laki-laki. Lemparan terbaiknya di ajang tersebut adalah 39.37 meter.

Dia koma selama delapan hari. Petugas kesehatan pun sempat mengira pria kelahiran Fiji itu sudah tewas. Tubuhnya diletakkan di sebuah kantong mayat. Tapi, ternyata kemudian detak jantungnya kembali terlihat. Dia pun dibawa ke Inggris untuk menjalani program rehabilitasi militer.

Sebelum menjalani rehabilitasi, dia menghabiskan waktu di rumah sakit tiga minggu. Sementara itu, kakinya diamputasi selutut. Dengan bantuan rehabilitasi dari Britain’s Battle Back, dia bisa hadir di ajang tersebut. Derek mengakui ia telah cacat. Tapi, dia berpikir bahwa dia sama dengan lainnya.

Derek pernah mengatakan bahwa sebelumnya dia bercerita pada semua orang soal keinginannya meraih prestasi. Dan, Derek membuktikannya pada Jumat lalu. Situs guardian.co.uk menyebutkan Derek bak pahlawan saat datang ke stadion dengan disaksikan 80 ribu fans.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA