Monday, 4 Safar 1442 / 21 September 2020

Monday, 4 Safar 1442 / 21 September 2020

Stephanie Handojo, Sang Pembawa Obor Olimpiade

Kamis 31 May 2012 23:51 WIB

Rep: Citra Listya Rini/ Red: Hafidz Muftisany

 Stephanie Handojo (kiri)

Stephanie Handojo (kiri)

Foto: Antara

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA. Perhelatan Olimpiade London 2012 akan menjadi catatan sejarah tersendiri bagi Stephanie Handojo, seorang penyandang tunagrahita. Dari 12 juta anak di dunia, Stephanie jadi 1 diantara 20 wakil yang dipilih UNICEF sebagai pembawa obor Olimpiade London yang akan dihelat 27 Juli-12 Agustus mendatang.

Peraih medali emas Special Olympic Games 2011 di Athena pada cabang renang ini terpilih dari delapan ribu orang yang menginspirasi yang akan membawa obor Olimpiade London. Stephanie dinominasikan oleh UNICEF Indonesia dan "The British Council" melalui program "International Inspiration".

Kendati menyandang tunagrahita, Stephanie tidak membuat dirinya kecil hati dan minder sebagai individu. Terlahir dengan kondisi "down syndrome", Stephanie merupakan seorang gadis muda yang berbakat yang telah menorehkan berbagai prestasi yang luar biasa sepanjang perjalanan hidupnya.

Prestasi yang berhasil dicetak oleh Stephanie antara lain menjuarai PORCADA (Pekan Olahraga Cacat Daerah) di cabang renang nomor 50 meter gaya dada putri pada tahun 2005. Tidak hanya itu, Stephanie juga tercatat sebagai pemegang rekor MURI (Museum Rekor Indonesia) untuk permainan piano 22 lagu selama dua jam dimana beberapa lagu diantaranya tanpa diiringi musik.

Stephanie dijadwalkan mengusung obor Olimpiade London 2012 pada tanggal 28 Juni di Nottingham dengan menempuh jarak sejauh 300 meter. "Terpilihnya Stephanie sebagai pembawa obor olimpiade adalah pencapaian terbesar dalam hidupnya. Terpilihnya Stephanie juga untuk memotivasi mereka yang mengalami keterbatasan tetap bisa berprestasi. Keterbatasan bukanlah sebuah penghalang untuk berprestasi," kata Ibunda Stephanie, Maria Yustina Tjandrasari kepada Republika.

Awalnya, Yustina tidak mengira anaknya bisa meraih prestasi di bidang olahraga dan seni. Terlahir dengan kondisi keterbatasan, Yustina awalnya ingin anaknya menjadi pribadi yang mandiri, tapi Stephanie justru bisa memaksimalkan bakatnya dalam bermain piano dan renang.

Stephanie yang lahir 5 November 1991 ini merupakan satu-satunya anak muda spesialis yang terpilih membawa api obor olimpiade. Stephanie akan mengusung obor oilimpiade dengan semangat "seseorang yang diremehkan ternyata bisa menorehkan prestasi".

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA