Friday, 17 Zulhijjah 1441 / 07 August 2020

Friday, 17 Zulhijjah 1441 / 07 August 2020

Dilema Atlet Puasa Di Olimpiade London

Senin 28 May 2012 03:10 WIB

Rep: Nur Farida/ Red: Dewi Mardiani

Atlet (ilustrasi)

Atlet (ilustrasi)

Foto: Antara

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON – Ketika atlet muslim pesepeda asal Malaysia, Azizulhasni Awang, diwawancara Reuters mengenai ketaatan berpuasa dengan pertandingan Olimpiade London 2012, Awang memilih untuk menunda puasa Ramadhan hingga Olimpiade London selesai. Keputusan ini dipilih demi berusaha mendapatkan emas di ajang olimpiade.

“Kita perlu latihan, makan, cairan, air. Kami telah dilatih benar-benar keras untuk berjuang mendapatkan medali emas. Jadi kita tidak akan sia-siakan, olimpiade sangat penting bagi saya,” katanya di Velodrom, Melbourne pekan ini.

Puasa Ramadhan tahun ini bertepatan dengan penyelenggaran kegiatan Olimpiade London 2012 yang akan dimulai 27 Juli. Satu pekan kemudian seluruh muslim akan menjalani puasa satu bulan, yang menimbulkan dilema bagi 3000 atlet muslim yang berpartisipasi dalam pertandingan olah raga terbesar dunia ini.

Ahli medis berpendapat secara teoritis pengurangan asupan makanan selama Ramadhan bisa menghabiskan cadangan energi di hati dan glikogen di otot atlet. Hal ini kemungkinan menjadi penyebab penurunan kinerja, terutama dalam olah raga yang membutuhkan kekuatan otot.

Ilmuwan olah raga dari Universitas Loughborough, Inggris, Ronald Maughan yang memimpin kelompok kerja IOC menyetujui adanya beberapa kemungkinan dalam kinerja fisik atlet selama menjalani puasa Ramadhan. “Beberapa atlet muslim mengatakan mereka tampil lebih baik selama Ramadhan bahkan dengan berpuasa mereka lebih fokus dan karena itu adalah saat yang sangat spiritual bagi mereka,” katanya kepada Reuters.

Maughan yang memimpin tim ilmuwan yang hingga terakhir menghasilkan 400 artikel penelitian mengenai Ramadhan menemukan hasil yang cukup beragam, tergantung pada budaya, individu, dan keterlibatannya dengan bidang olah raga tersebut.

Sedangkan Profesor ilmu latihan dan olah raga di Universitas John Moores Liverpool, Inggris, menyesalkan sedikitnya hasil penelitian yang bisa memberikan pandangan langsung yang mengamati atlet yang melakukan puasa Ramadhan bisa menyebabkan kerugian dalam olimpiade.

Meskipun hasil penelitian pro-kontra dihasilkan mengenai kajian puasa Ramadhan memiliki mempengaruhi dalam pertandingan, kelompok kerja nutrisi Komite Olimpiade Internasional (IOC) berkesimpulan dalam banyak keadaan puasa Ramadhan memberikan efek berkebalikan dengan latihan maupun kinerja selama pertandingan bagi atlet.

Sejauh ini, kelompok kerja nutrisi Komite Olimpiade Internasional (IOC) menyarankan 3000-an atlet muslim untuk mengikuti langkah atlet pesepeda asal Malaysia, Azizulhasni Awang untuk menunda puasa hingga olimpiade selesai. Sambil menyerukan atlet non-muslim untuk bertoleransi menghormati atlet muslim yang menjalani puasa di bulan suci. n c21/nur farida.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA