Thursday, 20 Rajab 1442 / 04 March 2021

Thursday, 20 Rajab 1442 / 04 March 2021

Ahsan/Bona Terhenti, Ganda Putra Habis

Ahad 14 Aug 2011 06:05 WIB

Rep: Ratna Puspita/ Red: Didi Purwadi

Bona Septano (kiri) dan Mohammad Ahsan

Bona Septano (kiri) dan Mohammad Ahsan

Foto: wordpress.com

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA - Indonesia dipastikan masih puasa gelar di sektor ganda putra setelah Muhammad Ahsan/Bona Septano gagal melaju ke final Kejuaraan Dunia 2011. Unggulan tujuh itu harus mengakui keunggulan Ko Sung Hyun/Yoo Yeon Seong asal Korea Selatan, 19-21 17-21, pada semifinal di Wembley Arena, London, Inggris, Sabtu (13/8).

"Penampilan kami kurang maksimal. Kami tidak bisa mengembangkan permainan karena lawan terus menekan. Kami harus bekerja keras lagi," kata Ahsan.

Duel berlangsung sengit pada game kedua. Ahsan/Bona berupaya mengimbangi permainan unggulan kelima tersebut. Tapi, Ko/Yoo selalu memimpin sejak awal pertandingan akhirnya memastikan kemenangan pada game pertama.

Unggul, Ko/Yoo leluasa mengendalikan permainan. Sebaliknya, Ahsan/Bona yang menjungkalkan juara All England 2011 asal Denmark, Mathias Boe/Carsten Mogensen, tampak gugup dan harus menyudahi pertandingan dengan kekalahan.

Bona juga mengaku kecewa karena belum berhasil melaju ke final menjadi juara. Meski demikian, adik Markis Kido ini cukup bersyukur dengan penampilannya bersama Ahsan di London. "Mungkin rezekinya sampai semifinal. Kami akan berusaha lebih baik lagi pada pertandingan berikutnya," ujar dia.

Ganda putra yang kerap menjadi andalan Indonesia terakhir menyumbangkan gelar juara dunia pada 2007 silam melalui Markis Kido/Hendra Setiawan. Meski gagal ke final, pencapaian Ahsan/Bona ke empat besar layak diapresiasi. Peringkat tujuh dunia ini berhasil mengalahkan lawan-lawan sulit, seperti Chai Biao/Guo Zhendong dan Boe/Mogensen.

Hasil empat besar ini juga diharapkan menyuntikan kepercayaan diri bagi Ahsan/Bona menghadapi turnamen-turnamen berikutnya hingga Olimpiade 2012 di London. Pertahanan menjadi sektor yang harus dibenahi pasangan ini sebelum tampil pada Indonesia Open Grand Prix Gold 2011, September mendatang.

Pada laga lainnya, Lee Chong Wei untuk kali pertama berhasil melangkan ke final Kejuaraan Dunia setelah mempecundangi juara bertahan asal Cina, Chen Jin, 21-13 21-9. Unggulan teratas itu berpeluang mencetak sejarah sebagai pebulu tangkis Malaysia pertama yang merengkuh juara dunia.

Tapi, upaya Lee diprediksikan tidak akan mudah. Pebulu tangkis berusia 29 tahun itu berpeluang menghadapi tiga kali juara dunia asal Cina, Lin Dan.

Tapi, Lin harus mengatasi Peter Hoeg Gade lebih dulu di semifinal untuk mencapai laga puncak.

Cina juga membuka peluang membawa gelar pada tunggal putri. Unggulan kedua, Wang Yihan, kembali menunjukan hasil yang lebih baik dibandingkan dua Wang lainnya.

Yihan mengalahkan kompatriotnya, Wang Xin, 21-14 21-15. Sebelumnya, peringkat satu dunia dan juara All England 2011, Wang Shixian kalah dari Cheng Chao Shieh asal Taiwan di perempat final.

Keberhasilan meraih hasil yang lebih baik dibandingkan dua Wang lainnya ini sangat penting bagi juara Indonesia Open Super Series Premier 2011. Sebab, peringkat dua dunia ini masih dipersalahkan atas kegagalan Cina mempertahankan Piala Uber tahun lalu.Sementara itu, ganda campuran nomor satu dunia, Zhang Nan/Zhao Yunlei, tidak perlu kesulitan melaju ke final. Sebab, lawan sekaligus kompatriotnya, Xu Chen/Ma Jin, memilih mundur dalam pertandingan sesuai game pertama berkesudahan, 21-17.

Unggulan keenam itu terpaksa tidak menyelesaikan pertandingan lantaran Ma Jin menderita cedera kaki. Tapi, tindakan ini tetap menimbulkan pertanyaan mengingat Cina kerap melakukan strategi serupa untuk memuluskan rekan senegaranya melaju ke babak berikutnya tanpa perlu memeras banyak keringat.

Zhang/Zhao akan menghadapi pasangan kejutan, Chris Adcock/Imogen Bankier, atau andalan Indonesia, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, di final.

Pasangan putri asal Cina, Wang Xiaoli/Yu Yang, tidak menemui kesulitan untuk menundukan Miyuki Maeda/Satoko Suetsuna asal Jepang, 21-8 21-15. Wang/Yu berpeluang membuat final sesama Cina bila Tian Qing/Zhao Yunlei berhasil mengalahkan Jwala Gutta/Ashwini Ponnappa dari India pada semifinal, Ahad (13/8) dini hari WIB.

Gutta/Ponnapa melaju ke semifinal setelah mengalahkan pasangan Indonesia, Vita Marissa/Nadya Melati, 21-17, 10-21, 17-21, di babak delapan besar. Hasil ini sekaligus memperpanjang kegagalan Indonesia meraih gelar juara dunia ganda putri untuk kali pertama. “Mereka mengubah pola di *game* kedua dengan lebih banyak menyerang. Kami juga lengah dan banyak lakukan kesalahan sendiri,” kata Vita seperti dilansir laman resmi PBSI.

Sebelumnya, pasangan putri nomor satu Indonesia, Meiliana Jauhari/Greysia Polii, menyerah dari Miyuki Maeda/Satoko Suetsuna di babak perempat final.

Unggulan ketiga asal Jepang itu juga yang mengandaskan pasangan muda Indonesia, Della Destiara Haris/Andini Suci Rizky, di babak kedua.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA