Tuesday, 14 Safar 1443 / 21 September 2021

Tuesday, 14 Safar 1443 / 21 September 2021

Bersama BPPT, YBM BRI Siapkan Pangan Padat Bagi Korban Bencana

Kamis 26 Jan 2017 13:13 WIB

Rep: Fuji Pratiwi/ Red: Agus Yulianto

Pengumpulan donasi untuk korban bencana aceh pada acara Tabligh Akbar

Pengumpulan donasi untuk korban bencana aceh pada acara Tabligh Akbar

Foto: Republika/Edi Yusuf

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bekerja sama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Yayasan Baitul Maal (YBM) BRI akan menyiapkan pangan padat bagi korban bencana. Pilihan pangan padat ini disesuaikan dengan karakter standar pangan untuk korban bencana dan akan jadi bagian survival kit yang disebar YBM.

Bendahara YBM BRI Sepyan Uhyandi menjelaskan, pada 2017 ini, pihaknya akan kerja sama dengan BPPT yang telah memiliki produk pangan berupa biskuit Bisku NEO untuk korban bencana. YBM BRI ingin bisa cepat membantu korban bencana dimana kebutuhan korban yang mendesak adalah makanan dan survival kit. 10 ribu survival kit YBM BRI sudah distok di beberapa tempat.

"Biskuit Bisku NEO ini nanti masuk dalam survival kit. Kita kerja sama dengan BPPT yang lebih memahami produk pangan yang memadai. Ini tingga co-branding dengan BPPT," ungkap Sepyan di sela-sela Workshop Pengurus YBM BRI seluruh Indonesia di Kawasan Slipi, Jakarta, Kamis (26/1).

Kepala Pusat Agroindustri, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hardaning Pranamuda menjelaskan, bencana adalah gangguan yang mengganggu kehidupan masyarakat atau menimbulkan korban. Saat bencana terjadi, korban butuh pangan darurat yang berisi setidaknya zat gizi makro. Selain itu, pangan untuk korban bencana juga harus bisa dijatuhkan dari udara dan tahan untuk beberapa waktu selama kondisi darurat.

Dalam pengembangan yang dilakukan BPPT, pangan darurat juga dilengkapi zat gizi mikro yang bisa mempertahankan daya tahan tubuh (imunomodulator) dari ekstrak tanaman. "Sebab dalam periode tahap 1 bencana yang berlangsung selama lima hari dan belum ada dapur umum, korban bencana butuh asupan untuk mencegah potensi kekurangan energi dan kematian," kata Hardaning. Kebutuhan energi korban bencana sebenarnya sama seperti kondisi normal yakni 2.100 kilo kalori. Bila tidak terpenuhi, korban bisa lemas.

Selain bagi korban bencana, Bisku NEO bisa dimanfaatkan bagi warga di daerah rawan pangan dan latihan militer. Karena tiap 100 gram Bisku NEO mengandung 437 kilo kalori. Mayoritas bahan baku biskuit ini menggunakan bahan baku lokal seperti tepung ubi, singkong, dan sayuran kering. Memang ada sedikir tepung terigu, namun komposisinya kurang dari 10 persen dari keseluruhan bahan.



BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA