Tuesday, 1 Ramadhan 1442 / 13 April 2021

Tuesday, 1 Ramadhan 1442 / 13 April 2021

Megawati Dilaporkan, Politikus PDIP: Aneh...

Kamis 26 Jan 2017 00:01 WIB

Rep: Eko Supriyadi/ Red: Bilal Ramadhan

Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri

Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri

Foto: Antara/Widodo S. Jusuf

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Politikus PDI Perjuangan Masinton Pasaribu, merasa aneh dengan tindakan LSM Aliansi Gerakan Anak Bangsa Gerakan Anti Penodaan Agama yang melaporkan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri atas penodaan agama. Menurutnya, pidato tersebut disampaikan Megawati secara terbuka kepada rakyat Indonesia dan disiarkan langsung melalui televisi.

Ia menjelaskan, HUT ke-44 PDI Perjuangan meneguhkan komitmen PDIP tentang Kebangsaan Indonesia, dengan tema HUT ke -44 Partai, 'Rumah Kebangsaan untuk Indonesia Raya''. ''Menjadi aneh ketika ada orang yang mempermasalahkan dan melaporkan ke polisi isi pidato tersebut,'' ucap Masinton Rabu (25/1).

Menurut anggota Komisi III DPR itu, dialektika ide dan pemikiran tidak bisa dipidana. Justru, lanjut dia, seharusnya dibahas dan didiskusikan sebagai pengkayaan dan penguatan kebangsaan masyarakat.

Masinton menegaskan, pidato politik kebangsaan Megawati selaku Ketua Umum PDI Perjuangan, menyampaikan kondisi dan tantangan kebangsaan Indonesia saat ini. Terutama tentang pentingnya Pancasila sebagai 'pendeteksi sekaligus tameng proteksi' terhadap tendensi hidupnya 'ideologi tertutup', yang mengancam persatuan dan kesatuan bangsa.

Sebab, ideologi tertutup tersebut bersifat dogmatis. Ia tidak berasal dari cita-cita yang sudah hidup dari masyarakat. Ideologi tertutup tersebut hanya muncul dari suatu kelompok tertentu yang dipaksakan diterima oleh seluruh masyarakat.

''Pidato politik kebangsaan Ibu Megawati Soekarnoputri diapresiasi positif oleh publik, akademisi, pers dan tokoh masyarakat,'' ujarnya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA