Thursday, 18 Rajab 1444 / 09 February 2023

Kampung Cina di Bengkulu yang Sepi

Ahad 22 Jan 2017 15:00 WIB

Red:

Kabar

 

Oleh

@taicing:

Hampir pada beberapa kota di Indonesia ada yang namanya kampung Cina. Salah satunya ada di Kota Bengkulu. Di ibu kota provinsi dengan julukan Bumi Rafflesia itu juga ada sebuah kawasan yang disebut  Kampung Cina yang terletak di Kelurahan Malabero.

Disebut Kampung Cina karena memang di kawasan yang terletak sepanjang Jalan DI Panjaitan dan Jalan Pendakian sejak dulu menjadi tempat bermukim masyarakat Cina. Mereka sudah turun-temurun tinggal di kawasan yang masuk dalam wilayah Kecamatan Teluk Segara, Bengkulu.

Di sepanjang Jalan DI Panjaitan dan Jalan Pendakian masih terlihat sisa bangunan rumah atau toko yang menjadi ciri khas kebanyakan kampung Cina. Namun, bangunan-bangunan  tersebut mulai tergerus usia.  Banyak juga bangunan yang sudah berubah bentuk dan sentuhan arsitektur Tiongkok sudah berganti gaya seperti kebanyakan pertokoan modern di berbagai kota di negeri ini.

Di Jalan DI Panjaitan masih ada tersisa satu vihara tempat ibadah masyarakat Cina di daerah itu. Menurut Abdul Aziz Numal yang sempat tinggal di DI Panjaitan pada 1957 saat masih bersekolah di SG (Sekolah Guru) A, kawasan kampung Cina pada masa itu merupakan pusat perniagaan Bengkulu, masih salah satu keresidenan dari Provinsi Sumatra bagian Selatan (Sumbagsel).

Abdul Aziz  masih ingat, penduduk Bengkulu pada waktu itu diperkirakan sekitar 30 ribu jiwa. Jumlah kendaraan roda pun masih bisa dihitung dengan jari,'' kenang lelaki itu.  "Saat itu, Kampung Cina sudah ramai karena tidak jauh dari situ ada pelabuhan samudra tempat bersandar kapal yang datang membawa barang dari luar Bengkulu.

Layaknya kampung sejenis pada beberapa daerah lainnya, Kampung Cina yang terletak tidak jauh dari pantai Samudra Hindia tersebut pada masa lalu merupakan kawasan pecinan di Kota Bengkulu. Letaknya juga tak jauh dari Benteng Marlborough yang dibangun pemerintahan kolonial Inggris. Untuk mencapai Kampung Cina dari Benteng Marlborough bisa dengan berjalan kaki.

Sebagai pusat perniagaan Bengkulu pada masa lalu, Kampung Cina juga tidak jauh dari pelabuhan di Pantai Tapak Paderi. Pelabuhan tersebut kini sudah tidak ada, pindah ke pelabuhan Pulai Baai. Sebagai kawasan yang dekat dengan pelabuhan yang sibuk dan ramai, Kampung Cina juga selalu ramai setiap harinya.

Di sudut jalan menuju Kampung Cina dulu berdiri bangunan kantor pelabuhan yang kini berubah menjadi sebuah kafetaria. Dari pelabuhan dan Kampung Cina dulu terjadi transaksi penjualan hasil bumi dari Bengkulu seperti kopi, cengkeh, sahang atau lada, dan karet yang dibawa kapal-kapal yang berlayar antarpulau.

Dalam buku tentang sejarah Bengkulu yang ditulis Abdullah Siddik menyebutkan, warga yang Tionghoa mulai bermukim di Bengkulu sejak 1689. Yakni setelah diizinkan oleh kongsi dagang Kerajaan Inggris, East India Company (EIC), yang menjalin kerja sama perdagangan lada dengan sejumlah kerajaan di Bengkulu.

Pada 1714, telah banyak bangsa keturunan Cina yang menetap di Ujung Karang (Kota Bengkulu sekarang). Mereka umumnya bekerja sebagai buruh perkebunan dan sebagian kecil ada juga yang berdagang. Mereka diberi kedudukan istimewa oleh Wakil Gubernur Joseph Collet saat itu. Warga keturunan Cina tersebut dipimpin oleh seorang kapitan.

Masa itu pelabuhan di Ujung Karang merupakan jantung perekonomian Bengkulu. Sebagai pusat perekonomian, kawasan yang disebut Kampung Cina tersebut menjadi magnet bagi banyak orang untuk datang mengadu nasib, layaknya para penduduk daerah yang datang ke Jakarta mencoba peruntungan.

Seiring berputarnya waktu, Keresidenan Bengkulu yang kemudian menjadi Provinsi Bengkulu lalu memacu pembangunan Kota Bengkulu. Pada masa Orde Baru sekitar tahun 1980-an Kota Bengkulu pun diperluas. Bersamaan dengan itu pusat bisnis berkembang dan terpencar tidak lagi terpusat di Kampung Cina.

Kawasan Pecinan yang dulu ramai perlahan mulai sepi. Pedagang dan pembeli berpindah ke tempat bisnis yang baru. Dulu di kawasan Kampung Cina ada toko sentra penjualan hasil bumi dan sekarang sudah tutup. Dulu, ada toko emas atau toko onderdil kendaraan yang sekarang sudah pindah, ujar Abdul Aziz yang sempat mengabdi sebagai tenaga pengajar pada Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya (Unsri).

Pascapergantian gubernur Bengkulu yang kini dijabat Ridwan Mukti, menurut seorang warga, Hambali, mantan Bupati Kabupaten Musi Rawas (Mura) tersebut punya rencana menghidupkan kembali Kampung Cina tersebut menjadi tempat berniaga. Rencananya Gubernur Bengkulu ingin menjadikan Kampung Cina sebagai pusat kawasan kuliner Bengkulu, ujarnya.

Ridwan Mukti pun mencanangkan Visit to Bengkulu 2020 dengan mempersiapkan sejumlah destinasi wisata salah satunya dengan melakukan revitalisasi kawasan Kampung Cina. Juga direncanakan Festival Cina Town 2020. N ed: nina chairani

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 

BERITA TERKAIT

 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA