Tuesday, 11 Muharram 1444 / 09 August 2022

Jangan Jadikan Sunat Sebagai Alat Takuti Anak

Jumat 20 Jan 2017 09:03 WIB

Rep: Desy Susilawati/ Red: Indira Rezkisari

Anak-anak mengikuti sunatan masal di Pesantren Ar-Riyadh, Bogor, Jawa Barat Jumat (23/10).   (Republika/Wihdan)

Anak-anak mengikuti sunatan masal di Pesantren Ar-Riyadh, Bogor, Jawa Barat Jumat (23/10). (Republika/Wihdan)

Foto: Republika/ Wihdan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Banyak orang tua yang menakut-nakuti anaknya dengan ancaman anak akan disunat seandainya nakal. Psikolog pendidikan Bambang Sunaryo meminta orang tua tidak melakukan itu ke anak.

Katanya, sunat adalah salah satu bentuk ibadah umat Muslim. Hingga anak justru harus didorong mau sunat, bukan ditakut-takuti.

Sama halnya ancaman saat anak berbuat nakal lainnya. “Kalau nakal dipenjara,” ujar Bambang, menirukan orang tua yang suka mengancam anaknya.

Padahal polisi tugasnya bukan menangkap orang, polisi bisa berguna untuk meminta bantuan saat terjadi insiden.

Tapi karena dari kecil sudah ditakut-takuti, jadi anak takut dengan polisi. “Sama halnya dengan sunat, sunat sebagai suatu kewajiban, harusnya menjadi kesenangan,” ujarnya kepada Republika.co.id di Bogor belum lama ini dalam acara Rumah Sunat.

Anak yang sering ditakut-takuti, lama kelamaan akan menjadi penakut. Menurutnya itu berbahaya, ketika anak penakut. Sebab akan membuat anak menjadi lemah, tidak mandiri, dan tidak baik untuk masa depannya.

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA