Monday, 5 Zulhijjah 1443 / 04 July 2022

43 Tahun Malari, Anti Cina, Shinzo Abe: Bangkitnya Gerakan Populis Dunia

Ahad 15 Jan 2017 08:49 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Hariman Siregar

Hariman Siregar

Foto: Antara/M Agung Rajasa

Tak disangka dan dinyana kedatangan  Perdana Menteri Jepang (PM) Shinzo Abe ke Indonesa kali ini bertepatan dengan peringatan Peristiwa Malari (Malapekata 15 Januari) 1974. Saat itu Jakarta muncul kerusuhan yang menolak kedatangan PM Tanaka Kakuei. Kawasan Pertokoan Senen dibakar orang tak dikenal, mobil dihancurkan, show room mobil buatan Jepang diobrak-abrik.

Mahasiswa yang saat itu tengah berunjuk rasa untuk memprotes masuknya modal asing ke Indonesia di Fakultas Kedokteran UI Salemba dituduh dijadikan biang keladi. Ketua Dewan Mahasiswa UI yang saat itu dijabat Hariman Siregar ditangkap dan dipenjara dengan tuduhan makar.

'Ya saya tahu Perdana Menteri Abe datang hari ini bertepatan dengan peringatan Malari. Sebenarnya tak beda dengan Tanaka, kedatangan Abe juga dalam rangka kerja sama ekonomi. Bedanya dulu Tanaka datang untuk menjalankan perintah Amerika Serikat untuk menyelamatkan Indonesia dari komunis, kini Abe datang untuk menyelamatkan posisi Jepang terhadap Cina di Asia dan Asia Tenggara dalam kerangka besar dari proyek super kapitalis,'' kata Hariman kepada Republika.co.id, (15/1). Hariman pun mengaku tahu bila kedatangan Abe akan disambut upacara kenegaraan dan dentuman tembakan meriam sebanyak 19 kali.

Bagi Hariman tak ada yang mengejutkan dengan situasi Indonesia di masa terakhir ini. Di sadari atau tidak negara akan masuk dalam pusaran 'deglobalisasi' di mana semua negara cenderung akan menutup diri dan tidak peduli terhadap soal negara lain. Kemenangan Donal Trump di AS, terpilihnya Rodrigo Duterte, keluarnya Inggris dari Uni Eropa, munculnya Norbert Hofer yang nyaris menjadi Presiden Austria, dan hingga adanya sosok Marine Le Pen yang kini menjadi kandidat kuat calon Presiden Perancis pada Pemilu Presiden Mei 2017, tentu menjadi bahan perhatian untuk melihat keadaan.

Menurut dia, gejala populisme tumbuh subur di berbagai belahan dunia. "Kemenangan Brexit dalam referendum yang disusul oleh kemenangan Donald Trumph pada Pemilu Presiden Amerika, sesungguhnya adalah jawaban tegas dan lugas dari kalangan kelas pekerja di kedua negara atas super kapitalisme yang terbukti gagal berbagi kemakmuran. Kini populisme yang anti liberalisasi, proteksionis dan anti asing telah berkuasa di Amerika yang menjadi jantung peradaban dunia. Bahkan di Asia yang sebenarnya tidak memiliki tradisi populisme, kini muncul sosok Duterte di Filipina yang begitu menggetarkan."

Dengan kata lain, lanjutnya, di dunia ini kini telah bangkit kembali populisme yang kerapkali salah kaprah. Ini terjadi karena terus berkepanjangannya krisis ekonomi dan berkuasanya 'super kapitalisme'. Poros dunia lama yang terbagi antara komunisme dan kapitalisme telah hancur. Celakanya, ketika kapitalisme berkuasa ternyata keadilan tak tercipta, pengangguran meledak, kesenjangan sosial menggila, dan negara menjadi 'chuavinis' seperti ala zaman Musolini dan Hitler ketika menguasai Eropa.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA