Saturday, 18 Safar 1443 / 25 September 2021

Saturday, 18 Safar 1443 / 25 September 2021

Infeksi Menular Seksual di Queensland Meningkat karena Kencan Online

Jumat 13 Jan 2017 12:02 WIB

Red: Ani Nursalikah

Infeksi menular seksual gonorea tidak bisa disembuhkan.

Infeksi menular seksual gonorea tidak bisa disembuhkan.

Foto: ABC

REPUBLIKA.CO.ID, QUEENSLAND -- Jumlah warga Queensland yang mendapat perawatan karena infeksi seksual yang menular terus meningkat. Di tahun 2016, kasus gonorea (GO) meningkat 32 persen.

Badan kesehatan Queensland Health melaporkan 27.506 orang didiagnosa terkena infeksi menular akibat hubungan seksual pada 2016, naik 10 persen dari tahun sebelumnya. Sekitar 82 persen dari kasus ini menderita klamidia. Tapi, para ahli mengaku terkejut dengan lonjakan besar pada kasus gonorea.

Di 2016, ada 4.006 warga Queensland yang didiagnosa dengan gonorea, naik dari 3.038 orang pada tahun sebelumnya. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri ini dapat mempengaruhi bagi pria dan perempuan. Pada perempuan, penyakit ini dapat berpotensi menyebabkan kemandulan, serta membahayakan bayi yang belum lahir. Sebagian besar kasus di negara bagian Queensland tercatat di pusat kota Brisbane utara dan selatan.

Pasien dengan 10 pasangan seksual sehari

Wendell Rosevear, yang menjalankan sebuah pusat medis khusus kesehatan seksual di kota Brisbane, mengatakan perubahan adalah budaya berkencan menjadi penyebab meningkatnya infeksi seksual. Menurutnya, ia "cukup sering" merawat pasien yang memiliki antara empat hingga 10 pasangan seksual sehari. Orang-orang ini menghadapi risiko yang lebih tinggi, jika melakukan hubungan seks tanpa pengaman.

"Kami melihat beberapa dinamika baru, di mana orang menginginkan seks yang instan, melalui interne, sehingga dalam satu hari mereka akan memiliki beberapa pasangan," katanya.

"Saya pikir sekarang orang sudah kebal dengan hubungan seks yang aman dan banyak orang tidak suka kondom. Tapi juga orang-orang sekarang berpikir: 'hak saya untuk melakukan hubungan seks yang tidak aman'."

Wendell mengatakan banyak orang yang terjangkit infeksi seksual menular karena ketidaktahuan mereka, tapi juga karena dokter tidak memberikan pengobatan yang semestinya. "Saya pikir cukup banyak dokter tidak menyadari adanya epidemi ini, bahkan untuk menguji mereka, menyembunyikan atau merawat penderitanya," katanya.

Direktur Layanan Kesehatan Seksual di Cairns, Darren Russell mengatakan hasil ini mengejutkan. Ia berharap data lanjuitan soal usia, jenis kelamin, etnis dan seksualitas pasien akan memberikan gambaran lebih dari kasus yang melonjak ini.

"Kita melakukan pengujian lebih dari yang kita lakukan di masa lalu, jadi saat kita menguji lebih sering, maka kita berharap akan menemukan kasus lebih banyak. Karena itu, kita tahu ada peningkatan klamidia di Australia, kita juga melihat ada peningkatan sifilis, jadi peningkatan ini sangat nyata," katanya.

Darren mengatakan penyakit seksual yang menular kadang tidak disertai gejala-gejala dan bisa berbahaya jika tidak ditangani. Menurutnya, sebagian besar infeksi terjadi pada usia 15-30 tahun, dan angkanya lebih tinggi pada pria gay yang tinggal di daerah perkotaan dan suku Aborigin yang tinggal di pedesaan.

Ia juga mengatakan tes awal untuk penyakit biasanya sederhana, hanya membutuhkan sampel urine dan darah. Pada 2016, Pemerintah Queensland berkomitmen lebih dari 18 juta dolar AS (Rp 180 miliar) untuk membuat strategi kesehatan memerangi angka infeksi seksual yang meningkat.

Dalam rancangan strategi disebutkan pemerintah akan fokus pada enam prioritas: meningkatkan kesadaran masyarakat, lebih memberikan dukungan bagi warga yang lebih tua, meningkatkan pendidikan bagi kaum muda, memberikan tanggapan kelompok masyarakat tertentu, memprioritaskan pencegahan infeksi, dan memberikan layanan berkualitas kepada pasien.

Diterbitkan oleh Erwin Renaldi pada 13/01/2017 pukul 13:30 AEST, dari laporan berbahasa Inggris, yang bisa dibaca disini.

sumber : http://www.australiaplus.com/indonesian/gaya-hidup-nad-kesehatan/infeksi-seksual-menular-qld-meningkat/8180738
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA