Friday, 10 Safar 1443 / 17 September 2021

Friday, 10 Safar 1443 / 17 September 2021

Kritik Mao Zedong, Dosen Ini Dipecat

Rabu 11 Jan 2017 06:49 WIB

Red: Bilal Ramadhan

Anak-anak di Beijing, Cina, sedang berpose bersama lukisan mantan pemimpin Cina Mao Zedong.

Anak-anak di Beijing, Cina, sedang berpose bersama lukisan mantan pemimpin Cina Mao Zedong.

Foto: EPA

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Seorang dosen Cina dipecat setelah mengkritik Mao Zedong dalam peringatan ulang tahun ke-123 pemimpin itu, dalam sebuah komentar yang dia unggah dalam jaringan dan memicu kemarahan kalangan sayap kiri.

Mao, yang meninggal pada 9 Desember 1976, secara resmi masih dihormati oleh Partai Komunis yang berkuasa sebagai pendiri Cina modern dan potretnya terpampang di setiap mata uang yuan.

Terutama oleh kalangan sayap kiri yang meyakini negara itu menjadi terlalu kapitalis dan tidak adil dikarenakan reformasi berbasis pasar selama tiga dasawarsa, dan pandangan terhadap Mao beserta warisannya yang menunjukkan perbedaan antara pihak reformasi dengan tradisionalis.

Deng Xiaochao, 62, seorang dosen kesenian dari Universitas Shandong Jianzhu di Cina tengah, mengunggah sebuah komentar di akun media sorial Weibo miliknya pada 26 Desember, yang merupakan tanggal lahir Mao, menyebutnya berada di balik kerusuhan yang menyebabkan tiga juta orang tewas dan Revolusi Kebudayaan yang menewaskan dua juta jiwa.

Tulisan itu telah dihapus namun gambar yang menunjukkannya telah tersebar dalam jaringan dan telah dilihat oleh wartawan Reuters. Kritik publik yang seperti itu jarang terjadi di Cina dan para pendukung Mao segera turun ke jalanan untuk memprotes Deng sesaat setelah komentar itu diunggah.

Beberapa di antaranya membawa spanduk bertuliskan "Siapapun yang melawan Mao adalah musuh rakyat," menurut gambar dan video yang disebarluaskan di Weibo. Global times, tabloid milik negara melaporkan pada Senin malam bahwa Deng dipecat dari posisinya sebagai penasehat pemerintahan provinsi Kamis lalu.

Sementara komite dari universitas menyatakan bahwa Deng tidak lagi akan mengajar atau diizinkan menyelenggarakan sejumlah kegiatan sosial di lokasi kampus. Tabloid itu tidak mencantumkan alasan pemecatan Deng.

Pemerintah Shandong mengatakan dalam laman resmi mereka bahwa Deng diberhentikan karena melanggar ketentuan provinsi dan nasional terkait kerja pemerintah, tanpa mencantumkan informasi lanjut, dan badan kedisiplinan setempat telah menerima informasi terkait.

Komite universitas mengatakan Deng mengeluarkan "komentar yang salah," merujuk gambar yang menunjukkan komentar Deng di media sosial. Deng tidak dapat dihubungi untuk dimintai komentar. Telepon kepada Universitas Shandong Jianzhu dan pemerintahan provinsi tidak mendapatkan jawaban.

Sejarah modern merupakan sebuah subyek yang sensitif di China, dikarenakan legitimasi partai bergantung terhadap segala pencapaian terkaitnya. Pihak partai mencoba mengendalikan interpretasi sejarah, meskipun para pejabat mengatakan informasi dalam jaringan mengancam pengendalian itu.

Sementara terdapat perdebatan dalam badan partai terkait arah reformasi, para analis berpendapat tidak ada tantangan besar terhadap Presiden Xi Jinping dari kalangan sayap kiri.

 

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA