Friday, 14 Rajab 1442 / 26 February 2021

Friday, 14 Rajab 1442 / 26 February 2021

Film Dokumenter Sajikan Realitas dalam Bentuk Kreatif

Kamis 01 Dec 2016 21:54 WIB

Rep: Rizkyan Adiyudha/ Red: Yudha Manggala P Putra

Kamera video. Ilustrasi

Kamera video. Ilustrasi

Foto: graysonlocal.org

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Belum banyak orang menaruh perhatian penuh pada  film dokumenter. Padahal film ini memiliki potensi unik untuk menyentuh dan menggerakan masyarakat lantaran menyajikan realitas dalam bentuk yang kreatif.

"Tayangan dokumenter itu real, sungguh-sungguh terjadi dan bukan hanya imajinasi," kata Program Director In-Docs, Amelia Hapsari dalam diskusi industri film dokumenter di Jakarta, Kamis (1/12).

Amelia mengatakan, banyak kisah menarik yang bisa diambil dari sebuah karya dokumenter. Sayangnya, dia mengatakan, film dokumenter sulit diakses masyarakat lantaran minimnya infrastruktur.

Sebelumnya, In-Docs mengadakan pemutaran film dokumentr di ruang Erasmus Huis di kedutaan besar Belanda. Pemutaran itu akan digeksr pada 1 hingga 4 Desember besok. Sebanyak 30 film dokumenter dari berbagai negara bakal diputar.

Amelia mengatakan, pemutaran film dokumenter kali ini berfokus ada masalah HAM. Dia menambahkan, kegiatan ini juga sengaja dibuat sekaligus untuk mengajak masyarakat, khusunya generasi muda yang peduli, toleran dan menghargai perbedaan dengan menonton film dokumenter.

Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan kesadaran kepada masyarakat bahwa semua manusia dilahirkan setara. Juga untuk mengajak masyarakat lebih memahami permasalahan dan mengetahui lebih banyak mengenai isu sosial di sekitar mereka.

"Film-film ini memberikan suara bagi mereka yang biasanya tidak punya tempat untuk didengar seperi kaum difabel hingga mantan tahanan politik," kata Amelia.

Salah satu film dokumenter yang diputar adalah Bangkit dari Bisu. Film tersrbut bercerita tentang grup paduan suara bernama Dialita yang merupakan bekas tahanan politik pada era 65-an.

Dialita menyanyikan lagu-lagu yang dilarang beredar dalam kurun waktu sekitar 50 tahun. Film tersebut bercerita tentang bagaimana personel Dialita mampu bertahan sembari membuat lagu dari balik jeruji.

Sementara, beberapa film dokumenter lain yang diputar adalah Kala Benoa dan Rayuan Pulau Palsu. Kedua film itu bercerita seputar reklamasi di teluk Benoa, Bali dan teluk Jakarta.


BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA