Monday, 23 Zulhijjah 1442 / 02 August 2021

Monday, 23 Zulhijjah 1442 / 02 August 2021

Warisan Umar bin Khattab yang Menginspirasi

Ahad 20 Nov 2016 19:30 WIB

Red: Agung Sasongko

Masjid Umar bin Khattab di Madinah

Masjid Umar bin Khattab di Madinah

Foto: istimewa

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-- Usai menunaikan shalat, Patriarch menemani Khalifah Umar menyambangi tempat Nabi Sulaiman pernah mendirikan fondasi Masjid al-Aqsha. Ternyata, kekaisaran Romawi Timur telah mengubah lokasi tersebut menjadi tempat pembuangan sampah.

Hal ini demi menghina bangsa Yahudi, yang menjadikan titik Masjid al-Aqsha sebagai kiblat ibadah, bukan Konstantinopel (kini Istanbul). Umar marah. (Baca: Teladan Toleransi Umar bin Khattab)

Ia meminta Patriarch mengimbau umatnya agar membersihkan tumpukan sampah. Bahkan, Khalifah Umar ikut dengan tangannya sendiri memungut sampah. Demikian pula dengan sejumlah pasukan Muslim. Setelah cukup bersih, lokasi tersebut menjadi lebih tampak nilai historisnya.

Umar melihat ada di sana batu suci yang pernah diceritakan oleh Nabi Muhammad SAW sebagai tempatnya menjejakkan kaki ketika Mi'raj ke langit. Demikianlah sekelumit kisah Umar yang penuh bersikap toleran kala membebaskan Tanah Suci al-Quds dari jajahan Romawi Timur, sebagaimana disarikan dari buku Menyusuri Jejak Manusia Pilihan, Umar bin Khattab karya Abbas Mahmud Aqqad.

Menjelang kepemimpinannya usai, Khalifah Umar mewariskan ketegasan yang menginspirasi. Kepada khalifah penggantinya, Umar menuliskan pesan penting.

Pertahankanlah lima ciri khas yang akan menyelamatkan agama Anda, sedangkan Anda sendiri akan mengambil manfaat dari hal itu lebih baik daripada nasib Anda. Apabila datang kepadamu dua orang yang sedang bersengketa, Anda harus meminta bukti-bukti yang dapat dipertanggungjawabkan. Dekatilah orang-orang yang lemah supaya mereka lebih berani memberikan keterangan, karena hatinya akan mantap dan lidahnya akan lancar.

Layanilah orang asing dengan baik, karena kalau Anda tidak melayaninya, dia akan meninggalkan haknya dan kembali kepada keluarganya. Dia meninggalkan haknya karena tidak ada yang memberikan kasih sayang kepadanya. Lunakkanlah pandangan dan luangkan waktumu untuk orang lain. Semaikanlah perdamaian di antara orang-orang yang sedang menghadapi masalah yang tidak jelas.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA