Saturday, 20 Syawwal 1443 / 21 May 2022

Walau tak Terlihat, Tubuh Manusia Bercahaya

Kamis 17 Nov 2016 08:27 WIB

Rep: Sri Handayani/ Red: Winda Destiana Putri

bioluminescence pada tubuh manusia.

bioluminescence pada tubuh manusia.

Foto: Sciencealert

REPUBLIKA.CO.ID, Ketika mendengar tentang bioluminescense, pikiran kita akan membayangkan biota laut dalam seperti angler fish. Hewan tersebut menggunakan jutaan bakteria untuk membuat bagian tubuhnya bercahaya. Kemampuan ini penting untuk membantu mereka menangkap mangsa.

Bagaimana dengan manusia?

Studi di Jepang pada 2009 menunjukkan, manusia juga memiliki bioluminescence yang membuat tubuhnya bersinar. Hanya saja, keterbatasan mata membuat sinar tersebut tidak dapat dilihat secara kasat mata. "Tubuh manusia sebenarnya mengeluarkan cahaya redup.  Intensitas cahaya yang disimpan di dalam tubuh 1.000 kali lebih rendah daripada sensitivitas mata telanjang," kata tim Institut Teknologi Tohoku dalam tulisan yang dimuat di PLOS One.

Penelitian dilakukan menggunakan kamera super sensitif. Alat ini dipakai untuk memonitor lima relawan laki-laki yang sehat selama 20 menit per tiga jam pada ruangan dengan kontrol cahaya yang ketat. Mereka menemukan bahwa para partisipan ternyata mengeluarkan cahaya. Intensitas tertinggi ada di bagian kening, leher, dan pipi di penghujung siang. Cahaya paling redup tampak pada malam hari.

Penelitian itu juga menunjukkan bahwa cahaya yang dimaksud bukan berasal dari radiasi infrared yang disebabkan oleh panas. Sciencealert.com menyebutkan, cahaya itu sebenarnya adalah photon dari cahaya yang dapat dilihat, bukan dari panas.

Jadi, apa yang sebenarnya terjadi?

Cahaya tersebut merupakan efek samping dari metabolisme tubuh manusia. Seperti diungkapkan Elliot Bentley, bioluminescence pada manusia adalah hasil dari reaktivasi radikal-radikal bebas uang terjadi sangat intens. Radikal bebas ini dihasilkan melalui interaksi sel pernapasan dengan lipid yang mengambang bebas dan protein. Molekul-molekul yang ada berinteraksi dengan fluorophores, kemudian memancarkan photon. Setelah itu tubuh menjadi bercahaya.

Kepala memancarkan cahaya paling banyak disinyalir karena bagian ini umumnya terpapar sinar matahari paling banyak. Dampaknya, memengaruhi melanin dalam kulit dan memicu reaksi lebih baik. Berdasarkan hipotesa bahwa bioluminescense pada hewan terkait dengan tingkat metabolisme tubuh, para peneliti mengatakan, cahaya yang keluar terhubung dengan jam biologis tubuh manusia. Jadi, di penghujung siang, ketika kita terpapar energi matahari paling tinggi, kita semakin bercahaya.

Tim ini berharap dapat melakukan scan pada permukaan tubuh manusia untuk mengetahui tingkat cahaya. "Jika kita bisa melihat cahaya yang terpancar dari permukaan tubuh, kita bisa melihat keseluruhannya.

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 

BERITA TERKAIT

 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA