Friday, 12 Rajab 1444 / 03 February 2023

Ngopi di Kebun Kopi Liberika

Senin 14 Nov 2016 18:59 WIB

Rep: Priyantono Oemar/ Red: Indira Rezkisari

Proses penggilingan basah kopi.

Proses penggilingan basah kopi.

Foto: Republika/Priyantono Oemar

REPUBLIKA.CO.ID, Harapan bisa ngopi di Sungai Beras tak terpenuhi. Haji Kamson yang semula memiliki 2.000 pohon kopi, kini hanya memelihara 200 pohon. Itu pun tak terawat dengan baik lantaran ia memilih merawat pinang dan sawit. Kebun kopi di Sungai Beras, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi, telah beralih fungsi menjadi kebun sawit dan pinang.

Dari Tanjung Jabung Timur, kami melanjutkan perjalanan ke Tanjung Jabung Barat. Kebun Sumarno di Kelurahan Mekarjaya, Kecamatan Betara, menjadi tujuan kami. Di sini, kami bisa minum kopi bersama Sumarno dan istrinya.

‘’Kopi liberika itu tidak pahit, ada manis-manisnya,’’ ujar Sumarno yang menjabat sebagai ketua I Kelompok Tani Sri Utomo Kelurahan Mekarjaya. Bubuk liberika, cangkir, dan termos air panas sudah disiapkan.

Kopi liberika banyak ditanam di Filipina. Di awal abad ke-19, Fillipina merupakan produsen kopi terbesar keempat di dunia. Ketika robusta tak teridentifikasi hingga 1890-an, semua orang yakin setiap biji kopi yang ada adalah arabika. Ternyata keadaan berubah. ‘’Kini Filipina menghasilkan banyak robusta dan liberika yang dikenal dengan nama kapeng barako,’’ tulis Tristan Stephenson di buku The Curious Barista's Guide to Coffee.

Di Indonesia, liberika didatangkan Belanda untuk menggantikan arabika yang terserang hama mulai 1878. Upaya meningkatkan kualitas liberika terus dilakukan, sehingga Pada 1890, liberika mendapat harga yang sama dengan harga arabika di rumah lelang Amsterdam. Tapi, seperti yang ditulis Gabriella Teggia dan Mark Hanusz di buku a cup of Java, di pengujung abad ke-19, liberika juga terkena serangan hama, sehingga didatangkanlah robusta untuk menggantikan liberika pada 1907.
Ketika istri Sumarno, Sapura, memperlihatkan mesin sangrai manual di rumah pengolahan kopi, Melda dan kawan-kawan langsung mengerubunginya sambil memegang secangkir kopi liberika. ‘’Menyangrai dan membuat bubuk menjadi bagian ibu-ibu,’’ ujar Sapura.

Ada dua waktu penyangraian yang dipakai. Untuk mendapatkan hasil sangrai arna cokelat gelap, waktu sangrai selama 40 menit. Untuk hasil sangrai cokelat terang, waktu sangrainya selama 15 menit. Ada 40 keluarga yang tergabung dalam Kelompok Tani Sri Utomo, tiga ibu mendapat tugas di bagian menyangrai dan membuat bubuk. ‘’Setelah disangrai, didinginkan, baru kemudian ditumbuk,’’ jelas Sapura.

Menyangrai dan membuat bubuk diserahkan ke ibu-ibu lantaran ini pekerjaan paling ringan dalam proses pembuatan kopi. Petani kopi liberika di Jambi, menanam kopi di lahan gambut. Lahan gambut dibiarkan tiga tahun sebelum ditanami kopi agar gambut menjadi padat terlebih dulu dan keasamannya berkurang. Jika lahan gambutnya tak memadat, panennya tidak bagus.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA